Kontol Kang Yasin Terjepit Nikmat di Pahaku (Cerita Johan) #3

Itil Foundation
Namaku Johan. Sebelumnya aku telah ditulari virus gay sama pamanku yang pedofil sejak aku SMP. Aku rindu pamanku yang kini masih dikurung di penjara karena memperkosa anak kandungnya sendiri Ayu hingga hamil. Aku seorang yatim piatu kemudian dikirim oleh pak lurah untuk dididik di sini di Pesantren panti asuhan di Kecamatan sebelah. Pak lurah mengirimku ke sini karena tak ada lagi yang merawatku karena saudaraku satu satunya yaitu Lik Bambang telah dibui untuk beberapa tahun lamanya. Aku tidak nyaman hidup di pesantren. Aku lebih suka hidup bersama pamanku Lik Bambang walaupun dia seorang pedofil bisek. Karena dia sudah kuanggap ayahku sendiri disisi lain dia merupakan cinta pertamaku yang hingga kini belum kuungkapkan.

Aku ingat betul ketika kami saling bersetubuh. Saling menikmati detail tubuh kami satu sama lain. Persetubuhan saat itu meninggalkan kesan jatuh cinta di hatiku pada pamanku Lik Bambang. Hingga kini aku masih setia menunggu kedatangan Lik Bambang yang menjemputku dari sini serta melepas kerinduan setelah sekian tahun berpisah. Aku masih berharap suatu saat Lik Bambang mengambilku dari sini kemudian kami tinggal bersama di rumah warisan nenek, menjalani hidup yang sederhana dan terkadang susah seperti dulu. Itu yang kuharapkan.

Berlama-lama tinggal di pesantren panti asuhan membuatku ingin segera minggat saja. Doktrin homofobia yang diutarakan Kyai menjadikan diriku seolah hidup sendiri di dunia ini dengan menanggung dosa yang harus kupikul sendiri. Muak rasanya. Rasanya pengen buru-buru kabur kalo Pak Kyai cerita sejarah kaum Luth. Aku merasa semua dosa besar yang ada di dunia akan kupikul sendiri, tak ada orang lain yang peduli.

Virus gay yang ditularkan Lik Bambang padaku telah menyiksaku selama ini. Namun aku tak pernah terfikir untuk menyalahkan dia. Ini merupakan suatu cobaan bagi diriku sendiri. Aku mulai susah berinteraksi pada teman-teman Panti. Aku hidup menyendiri. Padahal waktu SMP aku termasuk preman sekolah yang banyak ulahnya. Kini aku malah menjadi pendiam dan penyendiri.

Aku tau dosa yang kuterima atas  orientasi seksualku. Namun apadaya aku tak dapat mengendalikan hasrat seksualku jika aku ingin. Akhirnya kulampiaskan dengan mengocok kontolku sendiri saat mandi di sungai sambil membayangkan kenthu dengan Lik Bambang. Sering kulakukan kegiatan onani sendiri jika hasrat seksualku memuncak. Bahkan tak kupedulikan sebesar apapun dosa yang akan kupertanggung jawabkan di Akhirat.

Di pondok, semenjak ada rolling kamar santri aku mulai punya teman. Awalnya kamarku di bawah bersama anak-anak santri seangkatan yang tak dapat kuusili karena mereka takut dosa semua. Kemudian kami dipisah dan ditempatkan bersama santri senior agar kami dapat beradaptasi dan mendapat banyak ilmu. Kebetulan aku dikamarkan di kamar pojok kanan atas bersama Kang Yasin (28 tahun) dan Kang Guntur (23 tahun). Kang Yasin orangnya lebih asik dan suka bercanda. Dia kalo bercanda blak-blakan. Pernah suatu saat kuusilin saat mandi bersama kusentil tititnya kemudian dia membalas memlintir putingku, kuremas batangnya kemudian ia menyentil bolaku hingga perutku melilit akibat ulahnya. Aku menggelinjang kesakitan dia malah bercanda mau menyentil prisilanku lagi. Aku berusaha mengelak dan sikuku tak sengaja menyodok prisilannya dan ia merasakan setruman yang sama sepertiku. Ia menggelinjang menahan perutnya sambil jongkok, meringis sakit serta menahan tawa. Dan akhirnya kita tertawa bersama sambil ciprat-cipratan air. Kalau Kang Guntur orangnya agak religius artinya dia kurang berani diajak bolos dari kegiatan-kegiatan pesantren. Maka dari itu aku lebih dekat dengan Kang Yasin dibanding Kang Guntur.

***

Pada malam selasa Kang Guntur jadwalnya full di masjid. Setelah salat Isya' dia khataman Quran, diteruskan salat tahajud, kemudian mengaji kitab kuning, dilanjutkan salat subuh. Jadi hanya setiap malam selasa aku dan Kang Yasin tidur berdua di pondok. Pada suatu saat pada malam selasa dalam lelapku, ku rasakan Kang Yasin memelukku dari belakang. Awalnya sedikit kaget karena bertepatan dengan mimpi jatuh ke jurang. Pada saat itu aku langsung tersadar karena sempat melek namun badanku lemas bergerak. Melihat tubuhku kaget, Kang Yasin melepaskan kembali pelukannya dari tubuhku, namun tak lama kemudian ia memelukku kembali secara lembut hingga membuatku nyaman. Saat itu aku diambang diantara sadar dan lelap. Aku bisa merasakan dada besarta putingnya yang melenting beserta perut dan tulang iganya menempel panas agak lengket di punggungku. Namun aku tak bisa menggerakkan tubuhku. Lama-kelamaan tangannya menerobos senganku hingga lengannya menempel ke igaku. Tidak lama kemudian telapak tangannya mulai menggerayangi pentil, dada, hingga perutku. Terus diraba-raba hingga aku menikmatinya. Tak kusadari tanganku mulai bergerak dan meraba pahanya yang berada di belakang pahaku. Aku mulai menyibakkan sarungnya ke atas hingga ke pinggangnya. Kini kurasakan bongkahan bokong yang padat di telapak tanganku. Sementara tangan Kang Yasin masih terus meraba-raba perut, dada, hingga kontolku yang mulai menenang yang masih terbungkus kain sarung. Rangsangan yang ia berikan padaku mengingatkanku pada Lik Bambang. Sosok Lik Bambang langsung hilang karena kontol Kang Yasin yang panas menyentuh belahan paha belakangku yang membuatku kaget.

"Kamu suka Han?" Tanyanya padaku, sambil mendekatkan bibirnya di belakang cuping telingaku.

"Iya Kang" jawabku sambil membalikkan badanku menghadap badannya.

Kini kami saling tidur berhadap-hadapan sambil mendempetkan tubuh. Kurasakan aroma minyak nyong-nyong kasturi khas akang akang pondok di dadanya yang mulai memudar aromanya. Kemudian kami saling berpelukan di kamar pondok yang remang-remang dengan posisi sarung tersibak di perut kami masing-masing. Kami saling meraba punggung dan saling berpandangan.

***

Tak lama kemudian kontol kami yang sudah menegang total semua saling bergesekan. Karena paha Kang Yasin merangkul pahaku. Setelah lama berpandangan mata kami kemudian sayu lalu bibir Kang Yasin mengecup lembut bibirku, dilepaskannya kembali seraya memandangi mataku lagi, bibirku dikecup kembali kemudian langsung kulumat bibirnya seperti yang diajarkan Lik Bambang. Kurasakan aroma siwak di mututnya yang biasa ia kenakan sebelum melakukan salat. Bibir kami saling melumat. Lidah kami saling beradu. Kami saling mencipok wajah secara bergantian.  Hingga liur kami lumer di pipi, hidung, dagu, mata, kening, dan leher. Kurasakan di bawah sana sarung kami sudah melorot dengan sendirinya hingga kami telanjang total. Kontol kami semakin bebas untuk saling bergesekan. Birahiku semakin memuncak hingga posisi kami berguling-guling. Kadang aku di atas untuk mencimbui Kang Yasin, sesekali Kang Yasin yang di atas untuk mencumbuiku. Kemudian ia memposisikan miring seperti aku awal aku tidur tadi.

gambar illustrasi, Sumber: Twitter @BudakBangor92

"Sebentar ya Han aku ambil handbody dulu." Katanya sambil bangun mencampakkan aku ketika birahiku sedang dipuncak-puncaknya.

"Cepet kang!" Kataku kesal.

Kutengok Kang Yasin ke belakang dia sedang sibuk mengais-ngais kotak rias di bawah pecahan cermin yang dilekatkan di tembok kamar kami tempat kami bercermin.

"Ketemu Kang?" Tanyaku khawatir.

"Gak ada!" Jawabnya mulai frustasi sambil membuka lemari seranya menyusuri menggunakan matanya berharap menemukan handbody ditemukan di sana.

Kemudian ia menuju di pojokan kamar, jongkok dan sibuk di sana. Kutengok lagi Kang Yasin ternyata dia melumuri kontolnya dengan air sabun yang licin yang terjebak di dalam gayung alat mandinya. Ia kembali ke tempat tidur sambil mengocok kontolnya yang sudah tegang dari tadi dengan air sabun. Lalu mengecup pipiku dari belakang seraya berkata, "Aku masukin ya!"

Semenjak aku tahu dia memakai air sabun sebagai pelicin, aku mulai ragu untuk diajak ngentot dengannya. Aku pikir air sabun akan membuat anusku perih. Lagian aku sudah lama tidak dientot. Bahkan terakhir dengan Lik Bambang itupun hanya sekali saat ia merenggut perawanku. Karena anusku sudah lama tidak dientot, aku pikir sudah tidak elastis lagi. Aku takut kalau zat yang ada di sabun malah tambah membuat perih anusku. Jadi kuputuskan untuk tidak melakukan penetrasi pada malam itu.

"Maaf Kang aku takut, soalnya perih banget, aku takut kalau sabun itu malah menjadikan pantatku tambah perih, mungkin lain kali aja ya Kang!"

"Ayo lah Han aku gak mau berhenti sampai sini mumpung gak ada Guntur, kita senang-senang malam ini" keluhnya sambil mengambil posisi seperti awal yaitu tidur miring namun kini kontolnya siap berancang-ancang menembus pantatku dari belakang.

"Maaf Kang aku gak siap, lain kali aja." sambil kudorong pinggulnya ke belakang agar kontolnya menjauh dari garis pantatku yang sudah hinggap dari tadi.

Tiba-tiba dia mendempetkan dadanya ke punggungku sambil memelukku dari belakang seraya tangannya meraba-raba perut, dada dan kontolku. Kubiarkan saja aksinya. Pokoknya jika dia sampai nekat menusukku maka aku mau tidur di masjid saja. Kang Yasin masih terus menggrepe tubuhku. Masih tetap kubiarkan aksinya. Dada, perut, kontol dan bokongku menjadi licin dan tercium sabun Giv karena ulahnya. Masih tetap kubiarkan aksinya. Kini aku mulai terbuai kembali dengan aksi panasnya memainkan tubuhku untuk dibawa ke angkasa. Aku mulai menggelinjang, tanganku meremas apapun yang bisa kuremas, mulutku mendesah pelan tanda birahi memuncak kembali.

Tiba-tiba rudal Kang Yasin masuk dari belakang. Tak kurasakan sakit sama sekali tetapi nikmat yang luar biasa hingga terasa nikmatnya ke dalam sanubariku. Kontol Kang Yasin tidak masuk ke anusku tetapi dijepitkan ke paha dalamku dari belakang. Ouh... nikmat sekali. Kenikmatan tiada tara yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Belum lagi sentuhan dan kocokan mautnya yang memanjakan tubuhku.

Kontol Kang Yasin mundur maju mundur maju di jepitan pahaku. Kini paha dalamku mulai licin sekali akibat air sabun yang melumuri kontol Kang Yasin. Kupusatkan syaraf motorikku di sana. Akibatnya rasa yang nikmat menghujamku hingga nafasku menjadi tersenggal-senggal, degub jantungku seperti digedor-gedor, desahan nikmat tak henti-hentinya mengaum hingga suasana menjadi semakin panas. Tak lama kemudian jantungku seolah berhenti sejenak, desahanku juga berhenti dan berganti suara mengejan, tubuhku menggelinjang hebat seperti disetrum listrik 5000 watt dalam 0,0000001 per detik.  Akhirnya pejuhku muncrat menyeruak dari dalam kontol yang merekah dengan sendirinya tanpa dikocok. Cruooottt crooottt.... crtoott.... Menyembur ke perutku dengan hebat crooott... croott... croott... croott... crooot... nafasku kembali terengah engah, seluruh tubuhku panas hingga air keringat terus keluar dari setiap pori tubuhku, mengucur hingga menetes-netes dan membasahi apapun yang bersentuhan langsung dengan tubuhku termasuk tubuh Kang Yasin yang masih terus memainkan kontolnya maju-mundur di dalam jepitan paha belakangku.

Lava pejuhku yang perlahan meleleh dari perutku ditampung oleh Kang Yasin dengan telapak tangan dan jemarinya kemudian dilumurkan di kontolnya dan paha dalam ku. Kemudian tubuhku dibimbing untuk berbalik posisi menghadap tubuhnya. Kini kami saling berhadap-hadapan. Tanpa basa basi ia langsung menancapkan rudalnya kembali ke jepitan pahaku dari depan. Ia semakin beringas bahkan salah satu kakinya menginjak lututku dari atas agar pahaku semakin sempit dan kontolnya semakin terjepit. Kurasakan kontolnya semakin panas namun becek akibat lumuran pejuh dan cairan sabun sebagai pelicinnya. Kontolnya semakin cepat menggenjot pahaku. Kemudian tubuhku dilentangkan menghadap atas dan dia menindihku. Kusilangkan kakiku, kukencangkan otot pahaku untuk memanjakan kontol Kang Yasin. Kini tubuhku siap di gagahi Kang Yasin. Ia menjepitkan kontolnya  di pahaku dari atas kemudian mencumbui wajahku dan meraba-raba dada serta perutku. Kira-kira 10 menit bertahan ia melepaskan kontolnya dan mengocoknya di atas perutku. Sambil ia mengocok kontolnya sendiri, kubantu ia klimaks dengan meraba-raba puting, dada dan perutnya. Kulihat Kang Yasin dari bawah dia semakin gagah saat mengocok pusat kelelakiannya dihadapanku. Kunikmati pemandangan itu sambil memlintir-mlintir pentilnya. Ia terus mengocok sembil mengaum ngaum layaknya raja hutan yang liar dan gagah. Dan akhirnya crooot... crooott.... crooottt... crooottt... crooott.... croott...... Pejuhnya tumpah ruah di perutku. Sambil Kang Yasin mengatur nafasnya ia sempat memainkan pejuhnya sendiri di perutku. Ia lumer-lumerkan pejuhnya di perutku, kemudian perutnya digesek-gesekkan diatas perutku sambil mencipokku dengan kesan ciuman yang puas.

***

Suara santri-santri mengaji kitab kuning terdengar kompak  namun samar-samar. Itu pertanda waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Kami kembali kenakan sarung masing-masing dan tidur seperti biasanya. Tubuh kami masih berlumur air sabun, liur, dan pejuh yang mulai mengering, namun ada sedikit lengket di beberapa titik. Kata Kang Yasin kita harus mandi sebelum adzan subuh, karena setelah salat subuh Kang Guntur sudah kembali ke kamar. Cerita lain yang lebih panas pengalamanku dengan Kang Yasin akan kuceritakan di cerpen selanjutnya.


Cerita Selanjutnya Baca: Aksi Nekat Kang Yasin , Horny Dengan Cara Menyakiti Tubuhnya Sendiri (Cerita Johan) #4


Baca "Cerita Johan" Dari Awal: Keperawananku Direnggut Lik Bambang (Cerita Johan) #1
Foundation Study ITIL