Aksi Nekat Kang Yasin, Horny Dengan Cara Menyakiti Tubuhnya Sendiri (Cerita Johan) #4

Itil Foundation
Pada malam selasa berikutnya aku dan Kang Yasin duduk di kamar pondok sambil menyulut rokok tali jagad seraya bercerita satu sama lain. Hanya pada malam selasa saja momen yang tepat untuk kami saling berbagi cerita agar mengenal satu sama lain. Di hari-hari yang lain momennya kurang tepat untuk membicarakan rahasia kami berdua.

Aku bercerita pada Kang Yasin pengalaman pertamaku dientot oleh pamanku Lik Bambang. Di usiaku 13 tahun aku sudah rela melepaskan keperawananku padanya. Namun walaupun saat itu aku tinggal seatap dengan Lik Bambang tapi aku hanya dientot sekali saja, pernah aku minta lagi namun ia menolaknya entah apa alasannya. Ia lebih memilih ngentot dengan purel, bencong atau teman fitnessnya hingga membuatku cemburu. Saat Lik Bambang menolak ajakanku tak pernah kuminta lagi jika dia tidak minta duluan, namun ia tidak pernah minta ngentot denganku lagi hingga ia dipenjara. Aku yakin Lik Bambang juga merindukan aku sama seperti yang kurasakan. Aku bercerita panjang lebar kepada Kang Yasin seraya mengepulkan asap rokok ke angkasa.

Giliran Kang Yasin bercerita. Ia merasa bingung dengan orientasi seksualnya. Sudah 14 tahun ia hidup di pesantren. Hidupnya tak mempunyai tujuan. Sepertinya ia harus rela menjadi perjaka tua di pesantren. Dirinya merasa suka sama siapapun baik laki-laki atau perempuan, dewasa, anak-anak, jelek, cakep, hitam, putih, gemuk bahkan kurus. Semuanya ingin di entot ketika saat berahi. Namun anehnya ia mengaku berahi Kang Yakin muncul ketika ada yang melakukan kekerasan fisiknya. Sebenarnya aku juga pernah memperhatikan gerak-gerik Kang Yasin Waktu aku masih belum kenal betul dengannya. Bahwa Kang Yasin beberapa bulan yang lalu pernah terkena kasus menggelapkan uang koperasi santri sebanyak 1 juta kemudian ia dikenakan hukum cambuk di hadapan para santri. Saat itu kuperhatikan kontolnya terpampang jelas ngaceng dihadapan santri walaupun ia berusaha menutupi. Saat itu algojo menyuruh kedua tangan Kang Yasin dilipat keatas dengan telapak tangan memegang leher belakang kemudian algojo siap mencambuk punggung serta bokongnya menggunakan rotan. Saat itulah kontol Kang Yakin ngaceng naik turun naik turun di balik jubah tipisnya tanpa pakaian dalam. Serta ekspresi wajahnya tidak menunjukkan penyesalan atau siksaan tetapi ekspresi erotis serta mengeluarkan desahan nikmat selayaknya ekspresi ngentot. Aku juga sering melihat gelagatnya saat ia ikut dalam kegiatan merpati putih dan debus di pondok. Saat aku melihat ia beraksi misalnya perutnya dilindas sepeda motor atau di cambuk dengan cemeti berapi maka kontol Kang Yakin pasti ngaceng serta berekspresi erotis dan mengeluarkan desahan nikmat. Aneh juga terkadang, biasanya Kang Yasin di kamar sebelum mandi dia melakukan pemanasan fisik seperti push up, sit up, mengangkat barbel yang terbuat dari wadah cat diisi semen disambung dengan pipa. Kemudian setelah dirasa cukup berkeringat ia bercermin di pecahan kaca sepion yang ditempelkan didinding kamar kami dengan dengan mengencangkan otot ototnya yang kecil tapi padat seperti aksi binaraga kelas 60 kilo. Hal tersebut dilakukan jika tidak ada Kang Guntur. Bahkan akhir-akhir ini setelah kami melakukan persetubuhan waktu itu, Kang Yasin sering meminta tolong padaku agar menambah beban saat ia melakukan olahraga rutin sebelum mandi dengan cara menginjak perutnya saat ia melakukan sit up, duduk di punggungnya saat ia melakukan push up, dan dia senang sekali jika perutnya di tonjok. Bahkan dia sering menantangku agar menonjok lebih keras di perutnya serta otot-otot lainnya seperti otot dada, otot bisep, otot punggung dll. Aku juga merasa aneh ternyata kekerasan fisik bagi Kang Yasin menimbulkan kenikmatan erotis yang tak bisa ia jelaskan dengan logika.

Percakapan kami malam itu begitu mendalam namun kami hanya saling mendengarkan tanpa melakukan kontak mata namun saling menyambung dari hati ke hati. Aku sangat tahu apa yang dirasakan Kang Yasin, begitupula dia juga mengerti apa yang aku alami.

***

Pada suatu suatu hari di pesantren diadakan kerja bakti. Seluruh anak-anak santri dikerahkan membersihkan area pondok. Aku dan Kang Yasin kebagian membersihkan toilet belakang. Pengarah kegiatan memberikan kami beberapa botol Porstex beserta sikatnya. Hampir setengah hari kami membersikhan kerak membandel di toilet belakang menggunakan Porstex. Setelah selesai ternyata masih ada 1 botol Porstex yang tersisa dan masih baru. Kemudian Kang Yasin menyobek segel botol Porstex untuk diambil sarung tangan yang terbuat dari karet seperti sarung tangan dokter kemudian menyimpannya di saku kemejanya. Aku tak memperdulikan untuk apa sarung tangan tersebut.

***

Hari senin pagi aku dan Kang Yasin sudah merencanakan akan melakukan kegiatan persenggaman pada malam harinya. Kami saling sepakat akan melakukan anal seks karena saat itu Kang Yasin sudah membeli handbody Vaseline yang lidah buaya yang membuat sensasi kulit menjadi sejuk dan dingin. Setelah salat Magrib aku sudah mempersiapkan diri untuk dientot Kang Yasin dengan mencukur jembutku, mandi yang bersih dan tidak lupa boker dulu. Kuperhatikan Kang Yasin juga begitu, bahkan sebelum magrib dia sudah bersih dan wangi serta menyempatkan mencukur jambang halusnya hingga pipinya makin bersih dan kebiru biruan.

Malam selasa yang kutunggu-tunggu telah tiba. Setelah salat Isya pintu kamar ku kunci setelah Kang Guntur keluar kamar. Setelah ku kunci pintu kamar pondok, aku langsung berbalik dan menyambar tubuh Kang Yasin. Kami berpelukan sambil berdiri. Kucipoki mulut Kang Yasin seraya tanggan kami sibuk melucuti pakaian. Tak lama kami sudah telanjang total. Kusandarkan tubuh Kang Yasin di tembok kemudian kulumati seluruh tubuhnya dari wajah, leher, dada, perut, paha, hingga kontolnya. Kulumat ganas kontol Kang Yasin yang belum tegang. Kira-kira 10 menit mulutku tersangkut di kontolnya tetapi masih belum juga menegang total, padahal tanganku juga sibuk menggrepe dada, perut, punggung, bokong, paha, hingga prisilannya. Tetapi permainan Kang Yasin masih tetap dingin, kontolnya pun juga sulit tegang.

"Kamu ada masalah Kang?" Tanyaku sambil menghentikan aktivitas mengoral kontolnya seraya mengdongak ke atas memperhatikan matanya untuk mencari jawaban jujur.

"Aku nggak begitu suka permainan yang romantis Han, sesekali aku pengen gaya lain." Jawabnya agak gagap takut bersalah.

"Maksudnya???"

"Aku pengen kamu menghajar aku, tonjok otot-otot di tubuhku sekuat yang kamu bisa seperti yang kuajarkan waktu itu."

Walaupun permintaan Kang Yasin sedikit aneh tapi kuturuti saja apa yang diinginkan. Kutonjoki perut, dada, punggung, serta lengannya. Kuperhatikan kontolnya mulai ngaceng dan bergerak naik turun. Kang Yasin menantangku agar menonjok lebih kuat, tidak lemes seperti gadis kecil. Akhirnya ia tidur di lantai kamar kemudian ku hajar dia bukan hanya kujotosi dengan tangan tapi juga menggunakan kaki. Dia mulai mendesah menikmati siksaanku. Kang Yasin mengambil posisi terlentang ia memintaku untuk menginjak perutnya yang kotak-kotak setelah dikencang kan otot perutnya. Perutnya kini sudah siap kuijak. Pelan-pelan kunaiki perutnya dan kuangkat kakiku satu per satu seperti sedang melakukukan jalan di tempat tetapi tepat di perut Kang Yasin. Dia mulai mendesah dan mengeluh, kontolnya kulihat sudah tegang dan jatuh ke atas ke arah pusarnya. Kulakukan sebuah inovasi lain yaitu melompat dan mendarat di perut Kang Yasin. Saat kulakukan hal itu dia mengeluh kesakitan sambil membungkuk dan memegangi perutnya seperti preman yang dihajar seluruh orang di pasar. Aku segera turun dari perut Kang Yakin kemudian mengecup keningnya dan mengelus rambutnya ke belakang seraya mengatakan, "Sampean gak papa Kang?, maafin Johan ya kalo terlalu sakit!" Ujarku menyesal.

"Ouh... shhh huu... emmh... gak papa Han lanjutkan lagi, aku suka yang barusan, soalnya tadi aku belum siap, otot perutku belum kukencangkan tapi kamu sudah meloncat duluan, tapi gak papa. Ayo lakukan lagi Han aku suka."

gambar illustrasi, Sumber: Twitter @BudakBangor92


Aku sudah bersiap dan mengambil ancang-ancang mau melompat dan mendarat di perut Kang Yasin. Dia juga sudah siap, otot perutnya dikencangkan hingga tampak jelas berbentuk 6 kotak-kotak serta tulang rusuknya juga lebih berkontur dada dan otot bicepnya padat, kini perut Kang Yasin sudah siap menjadi landasan tubuhku. Kulompati tubuhnya dia merigis sambil menahan nafas. Lompatan kedua ia memejamkan rapat matanya tanda menahan goncangan di atas perutnya. Lompatan ketiga dia mengejan menahan bebanku dan mendesah menikmati permainanku.

"Ayo Han lebih kuat..." perintahnya sambil mengerang penuh emosi.

Kumiringkan tubuhnya menghadapku, posisi perutnya persis di hadapan kakiku. Kemudian kutendangi perutnya tanpa ampun, kotonjoki lengan atasnya. Kulentangkan lagi tubuhnya, aku mengambil posisi menduduki perutnya kemudian kutonjoki dadanya sampai aku benar-benar capek. Aku istirahat tidur disampingnya kumanfaatkan lengannya untuk kujadikan bantalan leherku. Kami sama-sama berkeringat dan nafas ngos-ngosan.

"Han kamu mau ngentotin pantatku?" Tanyanya.

"Mau sekali Kang, itupun kalau sampean berkenan aku entotin. Tapi kang biasanya dientot pertama kali itu rasanya sakit banget Kang, pantat rasanya seperti kebakar. Tapi lama-lama enak juga kok Kang dan bikin ketagihan. Sampean mau aku entot Kang?"

"Setelah dengar dari pengalamanmu dientot sama pamanmu, aku rasanya malah kepingin dientot juga. Sepertinya uwenak."

"Ya monggo Kang ambil posisi, mana Vaselinenya aku longgarin dulu pantatmu Kang biar bisa beradaptasi dan nggak terlalu sakit kalo kontolku nanti masuk." Kataku sambil bangun penuh semangat seraya mencari cari Vaseline.

"Vaselinenya di lemariku. Tapi aku nggak mau dilonggarin dulu Han, kalo bisa kontolmu langsung masuk aja ke pantatku sepertinya sensasinya lebih mantap"

"Ya terserah sampeyan Kang, kulo manut mawon"

Kuambil Vaseline dilemarinya kulumuri krim ke kontolku kemudian kukocok agar tambah menegang. Kang Yasin tetap berada di lantai kamar tidur terlentang beralaskan karpet biru berbintil seraya mengangkat lipatan kakinya hingga anusnya yang perawan terpampang nyata. Aku berlutut mengarahkan kontolku di bibir anusnya yang berkedut kedut seraya mengocoknya agar lebih menegang.

"Jika nanti aku merintih kesakitan tetap teruskan ya Han, dan jangan dihiraukan jika misalnya nanti aku memintamu untuk menghentikan. Lanjutkan saja. Bagiku kesakitan fisikku merupakan rangsangan yang paling nikmat."

Kudengarkan saja wejangan darinya tapi fokusku tetap di kontolku yang kini sudah siap berkandang karena sudah berdiri tegap gagah siap bertempur. Kumasukkan kontolku ke anus Kang Yasin pelan-pelan hingga sampai kepalanya saja. Kang Yasin meringis tegang dadanya terangkat sambil menahan nafas sepertinya memang sakit sekali. Kuteruskan masuk lebih dalam tiba-tiba kurasakan otot dinding anusnya menutup dan mendorong kontolku keluar dari anusnya. Kulumuri lagi krim hijau Vaseline agar tambah licin agar gampang masuknya. Kukocok sebentar dan kembali kumasukkan. Perlahan-lahan hingga kepala kontolku amblas dilahap bibir anusnya. Sebelum ototnya menutup lagi kupaksakan kontolku masuk lebih dalam. Ups... saat kontolku kudorong ke dalam tiba-tiba selip dan bengkok hingga membuat kaget syaraf di sekitar anus Kang Yasin yang secara refleks menutup kembali dan mendorong kontolku keluar lagi. Percobaan ketiga kontolku kubimbing masuk dengan tanganku yang menyangga batangnya agar tetap tegak dan tidak bengkok. Kepala kontolku masuk lagi, masih tetap kupegangi batang kontolku agar tetap tegap kemudian kudorong masuk pelan-pelan. Kuperhatikan ekspresi wajahnya yang hanya memejamkan matanya dengan rapat seraya fokus merasakan apa yang ia rasakan. Kudorong lagi lebih dalam pelan-pelan. Namun lagi-lagi otot anusnya menutup hingga membuat kontolku terdorong keluar.

"Jangan nutup Kang! rileks aja. Kalo sakit ditahan aja. Nanti kalo kontolku udah masuk lama kelamaan enak." Kataku.

"Oke oke kalo gitu masuknya jangan pelan-pelan, langsung jebol saja sudah Han. Jangan pedulikan kalo nanti berdarah." Jawabnya menantang.

Kuturuti saja permintaannya. Kukocok sekali lagi. Helem kontolku kuciumkan bibir anus Kang Yasin. Tanpa babibu langsung Blessss..... Kang Yasin meringis menggelinjang sambil berteriak namun ditahan, kepalanya mendongak ke atas dadanya terangkat ke atas. Kurasakan otot anusnya berusaha menutup lagi. Kupaksakan kontolku masuk lebih dalam. Kang Yasin semakin menggelinjang. Kupaksakan sekuat tenaga hingga bibir anusnya ikut tenggelam terlipat ke dalam. Bahkan kontolku sempat bengkok segera kutegakkan kembali dengan tanganku dan kupaksakan lagi hingga bleesss..... kontolku masuk dengan seksama. Kedua tangan Kang Yasin meremas kedua lututku.

"Ahh... enak Kang. Sekarang keperawananmu sudah milikku Kang. Gimana rasanya? Sampeyan suka Kang?" Tanyaku menghiburnya

"Emmmh... ahhh... sshh... aw... mmm. Huhh..." begitu desahannya sambil tangan kirinya menggenggam dan menutupi lubang hidungnya seperti menahan sakitnya benda asing berupa segumpal otot hidup yang masuk di anusnya.

"Aku mainkan ya Kang!

Kumaju mundurkan kontolku perlahan-lahan. Maju mundur maju mundur maju mundur. Tangan Kang Yasin mendorong perutku agar kontolku tidak tenggelam terlalu dalam di anusnya. Tapi semakin kugenjot dan semakin kutenggelamkan kontolku di sana. Tangannnya mencakar cakar karpet berbintil alas tempat kami ngentot. Semakin lama dadanya mulai turun, ekspresinya mulai tenang, dan sudah kembali memandangi mataku yang memberi sinyal minta cipokan. Kucepok bibirnya secara membabi buta. Kang Yasin mulai menikmati. Kang Yasin mulai panas. Kang Yasin mulai bergairah.

Berbagai posisi sudah kami coba, doggy style, tengkurap, miring, top in bottom, berdiri, dll entah apa namanya. Doggy style adalah posisi yang paling disukai Kang Yasin. Pada saat melakukan penetrasi dengan posisi doggy style jemari Kang Yasin turut masuk ke anusnya. Awalnya telunjuk disusul jari tengah kemudian jari manis. Tiga jari Kang Yasin sudah tenggelam  mengganjal anusnya sendiri seraya menggelitiki kontolku yang hinggap di sana. Kontolku dimanjakan dengan anus berruang sempit yang bebas kuperawani serta dapat bonus servis gelitikan jemari nakal Kang Yasin. Pengalaman pertamaku ngentot pria perkasa berotot baja membuatku semakin percaya diri menggagahinya menjadi lelaki sejati. Nikmat tiada tara tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Tubuhku mulai mengejang, bulu kuduk berdiri menjalar dari leher belakang merambat ke bawah hingga lengan punggung sampai ke bokong. Jantung berdegup memompa darah lebih dahsyat mengalirkan semuanya ke kontolku dan akhirnya croott.... crooott..... crooooottt..... crroooooottt...... crootttt..... crooot.... crooott.... croottt.... lava pejuhku muncrat di dalam anus Kang Yasin menyirami ruang dalam anus pusat kenikmatan yang tak banyak diketahui oleh semua lelaki. Kukeluarkan pusakaku perlahan dari sarangnya. Kulihat bibir anus Kang Yasin membuka saat kontolku keluar perlahan dari sana. Anusnya membuka terlihat indah merekah dikelilingi bulu halus serta bercak vaseline lidah buaya di sekelilingnya. Anus tersebut mengerut membuka mengerut membuka mengerut kemudian mengeluarkan cairan putih pejuhku yang bercampur bercak darah bening akibat gesekan organ dalam hingga pejuhku yang tumpah berganti warna menjadi sedikit kecoklatan akibat tercampur dengan darah bening tersebut. Pejuhku mengalir deras dan melimpah ruah dari anusnya. Beberapa kali ia mengerutkan anusnya untuk memastikan tak ada pejuh lagi yang tersisa di dalam tubuhnya. Kutampung pejuhku yang lumer di selangkangan Kang Yasin tersebut dengan kontolku kemudian kumasukkan lagi ke anusnya, karena hasratku menginginkan dia dapat hamil dari sari pati kelelakianku. Setelah puas bermain main dengan pejuhku di anusnya tubuhku tergeletak di samping Kang Yasin. Mengatur nafas agar tenaga kembali pulih.

***

Tidak lama setelah aku klimaks, Kang Yasin menuntutku agar kontolku segera masuk ke anusnya lagi agar dia bisa merasakan klimaks seperti yang kurasakan. Tapi aku benar-benar kehabisan tenagaku. Mungkin jika untuk menggrepe, mencipoki, atau mengocok kontolnya aku masih bisa. Tapi butuh berapa jam untuk mengocok kontolnya agar dia bisa mengeluarkan pejuhnya, sementara selama kami berhubungan badan, tangan Kang Yasin terus mengocok kontolnya sendiri kecuali saat kontolnya kuemut, itupun belum juga keluar pejuh hingga sekarang. Bisa bisa tulang lenganku bisa patah karena kecapekan mengocok kontol Kang Yasin yang tak kunjung klimaks.

"Kalo kontolmu udah gak mampu, masukkin aja pake jarimu Han." Pintanya padaku.

Tapi jujur saja aku agak jijik sama anus yang sudah menganga. Mungkin jika melakukan peregangan pada anus perawan masih gak papa soalnya terlihat nikmat dan membuat hasrat semakin menggebu. Tapi anus Kang Yasin sudah menganga. Aku jijik memasukkan jariku di sana kecuali pake kontolku. Kuutarakan perasaanku sejujurnya pada Kang Yasin. Tapi dia memberikanku solusi bahwa aku diruruh memakai sarung tangan karet hadiah Porstex yang masih baru yang masih disimpannya beberapa hari lalu. Its oke lah kalo pakai pengaman seperti itu biar aku gak terlalu jijik. Kupatuhi perintahnya. Kupasang sarung tangan karet di tangan kiriku, kulumuri jemariku dengan Vaseline dan kumasukkan ke anus Kang Yasin yang sudah longgar. Dua jari telunjuk dan jari manis langsung masuk dengan mudah. Kumainkan dua jariku di anusnya kemudian disusul dengan memasukkan jari manisku. Kini terdapat 3 jari yang sudah masuk di anus Kang Yasin. Jari kelingkingku kupaksakan masuk juga walaupun hampir tidak memiliki ruang hingga posisi 4 jariku menguncup di dalam anus Kang Yasin. Kumainkan 4 jariku di anus Kang Yasin mencakar-cakar lembut dinding anusnya. Kang Yasin meringik menggelinjang mendongak ke atas seperti anjing minta makan ke majikannya. Terus kumainkan jemariku di sana kuputar putar, maju mundur, dan kucakar cakar dinding anusnya.

"Masukin lebih dalam lagi Han" pinta Kang Yasin sambil menoleh ke belakang untuk menengok kondisi anusnya.

Kulepaskan tanganku kulumuri lagi dengan vaseline telapak dan punggung tanganku. Kumasukkan lagi keempat jemariku ke anus Kang Yasin. Saat pangkal keempat jariku sudah sampai di bibir anusnya maka kudorong lagi agar telapak tanganku juga dapat masuk ke dalam. Kupaksakan tanganku masuk ke dalam lagi. Kang Yasin meringik kesakitan serta badannya condong ke depan. Dengan sedikit paksaan akhirnya telapak tangan ku ikut masuk. Kini anusnya menjepit tanganku yang berkontur agak gepeng tidak seperti kontol yang bulat. Kumainkan kembali tanganku di sana. Kang Yasin semakin kesakitan namun tangannya semakin cepat mengkocok kontolnya sendiri.

"Assuu.... cuuuk.... hmmmhhh... ssh.. aw... Han kalo bisa jempolmu masukin aja sekalian!" Pintanya.

Jempolku kulumuri lagi dengan vaseline dengan separuh tangan masih menancap di anusnya. Kumasukkan jempolku dengan paksa dan akhirnya kelima jariku berdesakan di dalam anus Kang Yasin.

"Masukkan tanganmu semua Han ke silitku!" Pintanya sekali lagi.

Tanganku yang penuh Vaseline kudesak masuk lebih dalam tapi sepertinya anus Kang Yasin sudah maksimal hingga sampai pangkal jemariku yang menancap.

"Sudah gak bisa Kang, seret. ini sudah maksimal."

"Kalo gitu pake minyak goreng aja Han."

Kucabut tanganku secara perlahan kemudian tangan kiriku yang terbungkus sarung tangan karet berlumur Vaseline kulumuri lagi dengan minyak goreng Fitri di meja lipat kecil tempat menaruh makanan kami. Kutuang kira-kira 5 sendok makan lalu kuratakan hingga pergelangan tangan. Kang Yasin mengambil posisi doggy style lagi dan aku jongkok di belakangnya seraya memasukkan tanganku di anusnya. Kumasukkan kembali tanganku dan kali ini masuknya lebih mudah dan licin sekali namun lagi-lagi agak macet pangkal jemariku karena di pangkal jemari merupakan titik paling lebar untuk memasukkan semua tanganku di anusnya. Semakin kudorong lagi badannya semakin condong ke depan. Kudorong lagi, dada dan wajahnya menempel lantai. Kudorong sekali lagi dan akhirnya bleeeesss...... tanganku masuk semua ke anusnya hingga pergelangan tangan. Dia menggigit gumpalan sarung dengan rapat dan berteriak sambil tangan kanannya menggedor gedor lantai ubin kamar kami.


gambar illustrasi, Sumber: Twitter @BudakBangor92

"Akhh..... akh..... asuuu.... awwww......" teriaknya kesakitan namun suaranya diredam oleh remasan sarung yang digigitnya.

Aku sedikit khawatir betapa sakitnya yang diderita Kang Yasin karena permainan ekstrim kami. Kupanggil-panggil dia untuk menanyakan keadaannya, "Kang, Kang, Kang Yasin... sampean gak papa?"

Mulutnya yang disumbat kain sarung tetap mengluarkan teriakan kesakitan, "aaakkhh.... anjiiing.... bangsaaattt..... uwwassuuu.... aakkhh... mainkan tanganmu Han... emmmh...."


Kumainkan tanganku di dalam sana. Telapakku kukuncupkan kemudian kumekarkan, kukuncupkan lagi kemudian kumekarkan. Kugaruk-garuk lembut dinding duburnya. Kuputar-putar kemudian kutarik dan kudorong seperti mantri hewan mengawinkan sapi. Kucoba kutarik tanganku keluar dan agak macet di pangkal jari karena merupakan titik paling lebar bibir anusnya berusaha membuka. Tiba-tiba badan Kang Yasin menggelinjang dan kurasakan dinding duburnya mencengkeram tanganku lebih kuat, berkedut kedut dan kulihat ternyata Kang Yasin klimaks mengeluarkan pejuh putih kental banyak sekali. Crooot.... crooot... crooot... crooot..... Pejuhnya berceceran di lantai ubin, masih kutahan tanganku di anusnya memberi kesempatan Kang Yasin klimaks dan menguras pejuhnya sampai habis. Kemudian ku keluarkan tanganku dengan agak paksa karena sedikit seret. Akhirnya tanganku berhasil keluar dari anusnya. Kulepas sarung tangan karet yang penuh lumuran Vaseline dan minyak goreng yang licin. Kini anus Kang Yasin melongo sebesar gelas zam zam. Dia masih tetap menunungging sambil mengatur nafasnya. Tampaknya Kang Yasin begitu kelelahan wajahnya ditenggelamkan di kain sarung yang kumal. Kulihat bibir anusnya yang melongo mengkerut kemudian melongo lagi, mengkerut lalu melongo lagi. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke samping. Kupeluk dia dari belakang kucumbui tengkuknya dan kubelai dada dan perutnya yang masih mengembang mengempis mengatur nafas. Dalam kondisi tubuh kami yang tak berdaya, telanjang dan berkeringat panas, kami tidur berpelukan hingga subuh menjelang. Seperti biasa besok sebelum subuh kami harus bergegas mandi sebelum rahasia kami kepergok oleh Kang Guntur.


Cerita Selanjutnya Baca: Memperawani Mas Dika, Remaja Banci Kampung Yang Kemayu ( Cerita Johan) #5

Baca "Cerita Johan" Dari Awal: Keperawananku Direnggut Lik Bambang (Cerita Johan) #1
Foundation Study ITIL