Memperawani Mas Dika, Remaja Banci Kampung Yang Kemayu (Cerita Johan) #5

Itil Foundation
Di pesantren setelah solat ashar biasanya aku dan anak-anak pondok dan kakang-kakang pondok bermain bola di lapangan desa dekat pondok kami. Terkadang kami tanding dengan pemuda-pemuda desa. Jika lapangan sepi terkadang kami membagi 2 tim dan bertanding bola.

Lapangan desa kami cukup besar tempat berkumpul warga untuk sekedar jalan-jalan sore. Anak-anak bermain permainan tradisional seperti lompat tali, kasti, gopak sodor dll. Ibu-ibu menggendong anak atau cucunya menyuapin mereka. Bapak-bapak bergerombol merokok seraya ngobrol ngalor ngidul sambil melihat pertandingan bola. Anak-anak yang sudah mandi biasanya mereka beli es potong atau cilok kepada penjual keliling dan diwanti-wanti sama emaknya agar tidak ikutan bermain-main agar tidak berkeringat karena malamnya mereka akan mengaji di mushola. Remaja-remaja SMP yang cewek-cewek biasanya mereka bermain sepeda seraya membonceng adik mereka. Cewek-cewek remaja SMP terkadang ikut nimbrung gadis-gadis SD yang main lompat tali dan terkadang mereka main curang dan menang sendiri karena musuhnya anak SD. Tidak jarang cewek-cewek remaja SMP tebar pesona pada kakang pondok. Bahkan kakang pondok saling menggoda remaja SMP tersebut dan menjodoh-jodohkan.

Satu yang menjadi perhatianku yaitu Mas Dika. Dia sering jadi bahan bullying anak-anak dan kakang-kakang pondok terkadang jadi bahan bullying gerombolan bapak-bapak yang nongkrong di lapangan. Dia di bully karena banci. Dia selalu berkumpul dengan remaja-remaja cewek SMP. Mas Dika juga suka main lompat tali, bahkan paling lihai dan tubuhnya lentur jika main lompat tali. Jika maen bekel jarinya lentik. Sikapnya pun seperti remaja cewek pada umumnya. Makanya dia sering kena bully kakang-kakang pondok.

Mas Dika sebenarnya kelas 2 SMA, beda satu tingkat di atasku. Walaupun dia sudah kelas 2 SMA dan aku masih kelas 1 SMA kadang tingkahnya masih seperti anak SMP. Jadi aku tidak sungkan saat menggoda dia. Aku sebenarnya tidak suka menggodanya tapi karena pengaruh teman-teman pondokku jadi aku juga menggodanya. Dia sangat ganjen kalo digoda seperti banci murahan membuat kita ketawa geli.

Suatu saat ketika tim bola pondok dan tim bola pemuda desa tanding, dia terlihat aneh. Tujuan matanya selalu tertuju pada anak-anak yang berwajah tampan dan bertubuh kekar. Dia tidak memihak tim salah satu pemain. Pokoknya dia mendukung dan bersorak sorai jika pemuda desa yg berwajah ganteng menggiring bola, terkadang dia heboh sendiri dan bersorak sorai jika tim pondok yang bertubuh gempal menggiring bola. Jadi tak jarang Kang Yasin yang bertubuh kekar selalu di jodoh-jodohkan dengan Mas Dika sama anak-anak pondok, kalo pemuda desa yang selalu dijodoh-jodohkan dengan Mas Dika yaitu Mas Tomi karena Mas Tomi berwajah ganteng diantara yang lain. Bedanya jika Mas Tomi terlalu jijik dan geli dengan mas Dika, sedangkan Kang Yasin selalu menggoda Mas Dika.

Pernah suatu saat Mas Dika mengejar-ngejar Mas Tomi, mereka berlari-lari membelah lapangan. Karena Mas Tomi jijik maka ia lari terbirit-birit. Momen tersebut membuat kami tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah mereka berdua. Sedangkan Kang Yasin malah mengejar-ngejar Mas Dika keliling lapangan untuk dipeluknya, tapi dengan kenesnya Mas Dika pura-pura berpaling menghindar seperti film India. Ketika tubuhnya didapat, Kang Yasin langsung dipeluknya dan diajak berguling-guling di tengah lapangan. Kang Yasin begitu nekat waktu itu. Ia membuka bajunya dan membuka baju Mas Dika lalu diciumi pipinya dan di remas-remas dada ratanya di tengah lapangan, seperti gerakan memperkosa gadis desa di semak-semak tegalan. Sontak saja kami yang beristirahat setelah tanding bola di pinggir lapangan di bawah pohon beringin langsung berdiri dan menyoraki ulah cabul mereka berdua. Mas Dika pura-pura pasrah dan terus berteriak genit padahal dia bisa saja lari kabur kalau tidak mau dicabuli Kang Yasin. Begitu pula Kang Yasin tidak segan-segan membuka bajunya dan baju Mas Dika kemudian mendempetkan perutnya di perut Mas Dika di peluk lalu dicuimi pipinya sesekali dia meremas-remas dada kerempeng Mas Dika. Penonton heboh berdiri bersorak-sorai di pinggir lapangan seperti melihat gol cantik Andik Firmansyah. Setelah puas Kang Yasin pergi meninggalkan Mas Dika di tengah lapangan sendiri serta memakai kemejanya lagi persis seperti pemerkosa handal, menuju ke tempat kami. Mas Dika pura-pura lemas tak berdaya dan trauma tapi dalam hatinya senang sekali bergembira ria. Setelah kejadian itu pandangan Mas Dika selalu terarah ke Kang Yasin ketika tanding bola. Anehnya Mas Dika malah senang kalo babak pertama tim kita yang kalah soalnya kita termasuk Kang Yasin harus membuka baju dan bermain bola dengan bertelanjang dada. Maka kuperhatikan mata Mas Dika selalu tertuju ke arah badan Kang Yasin yang kekar soalnya sering latihan fisik di kamar setiap pagi dan sore sebelum mandi, belum lagi akibat latihan keras kegiatan pencak silat yang diikutinya.

***

Suatu hari aku sedang bolos pramuka di sekolah dan jalan-jalan sendiri di lapangan. Kulihat dari kejauhan Mas Dika berada di bawah pohon beringin dipinggir lapangan duduk miring seperti orang solat sendirian sambil merangkai bunga dan rerumputan. Kuhampiri dia yang sepertinya sudah selesai mengerjakan PRnya di sekolah karena terdapat beberapa tumpukan buku.

"Sedang apa Mas Dika?" Tanyaku menghampiri dari belangkang.

"Nggak ada, kamu sendiri ngapain?" Jawabnya jutek sambil merangkai bunga dari rerumputan.

"Aku jalan-jalan aja sih sendirian, tadi aku habis bolos pramuka di sekolah jadi aku maen sendirian di sini, soalnya di pondok sepi ya udah aku ke sini aja."

"Kamu ke sini gak ngajak-ngajak Kang Yasin? Emangnya Kang Yasin sekarang di mana dia?" Tanyanya sambil melihat mataku tanda membuka obrolan.

Aku duduk di depannya sambil membuka-buka buku pelajarannya yang tampak rapi, sesekali kulihat gambar anime seorang gadis seksi ber dada besar yang cantik.

"Kang Yasin sekarang jaga koprasi. Karena aku sendirian di pondok ya udah aku jalan-jalan aja ke sini. Eh sampeyan pinter gambar juga ya?! Gambarin aku dong!"

"Sini aku gambarin" balasnya.

Mas Dika meletakkan rangkaian bunganya yang melingkar berbentuk bando di kepalaku, aku diam saja sambil memperhatikan mukanya. Tak kusadari dia kalau lagi serius imut juga, bibirnya mungil dagunya lancip, hidungnya mancung, matanya sayu, lesung pipitnya dalem, uhh... pengen banget rasanya kucumbui wajahnya. Apalagi sekarang wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Kedua tangannya berada di pipiku sedang sibuk memposisikan wajahku yang akan di gambar. Aku diam terpesona melihat wajah tampan kalemnya. Kemudian dia menabrakkan pandangannya ke mataku. Kami saling berpandangan selama tiga detik. Kemudian kami saling malu dan memandangi ke bawah sambil salah tingkah. Tak terasa kami saling memberi kode. Mau tidak mau hal ini harus di ungkapkan atau jika kami berpisah kemudian bertemu lagi di lain waktu, maka kami saling salting selamanya. Saat dia menunduk kupandangi wajahnya namun kubuang pandanganku saat dia memandangiku. Topik obrolan ringan jadi hilang hingga kami berdua agak gagap dan selalu salah tingkah. Dia masih bertahan dengan kondisi ini, sedangkan aku tidak bisa. Kutunggu momen yang tepat untuk kuungkapkan.

Dia menggambar wajahku, dalam kesempatan ini kupuas-puaskan memandangi wajah imutnya yang serius. Tampaknya dia tidak berani melihat wajahku. Dia sadar saat kupandangi. Dia terus menggambar.

"Lihat dong Mas hasilnya!" Kupecahkan suasana yang tidak enak itu.

"Sebentar ini hampir jadi, nih lihat sendiri"

Kurang dari tiga menit dia sudah selesai menggambar sketsaku, hebat sekali dia pikirku. Karena penasaran kudekatkan wajahku ke wajahnya untuk mengintip gambarnya. Namun momen itu semakin membuat jantungku berdegup. Wajahku semakin mendekat ke wajahnya. Kini aku semakin fokus memandangi wajahnya. Dia tidak berani melihat wajahku, Mas Dika terus menggambar. Wajahku semakin dekat ke wajahnya. Kini dia mulai agak gugup dan sedikit panik namun ditahan dan pasrah apa yang kemudian kulakukan. Naluriku berjalan dengan sendirinya ingin rasanya kucumbu mesra wajah imut Mas Dika yang lagi gugup. Di bawah pohon beringin yang besar dan rindang di bibir lapangan kami berdua sedang berusaha membuka hati. Wajahku semakin dekat ke wajahnya kurang satu senti bibirku menyentuh pipinya. Kubuyarkan naluriku ku arahkan pandanganku ke gambarnya. Kutengok gambarnya. Dia merasa lega. Saat kutengok gambarnya ternyata yang digambar adalah sebuah kontol berotot sedang mengeluarkan pejuh dengan jembut dihiasi rangkaian bunga seperti yang ia pakaikan di kepalaku.

"Bangsat Mas Dika Kurang ajar hahahaha" kujitaki dia sambil ketawa tawa karena mengerjaiku.

"Hahaha sukurin... hahaha" dia juga membalas menjitaki kepalaku.

Saat dia membalasku, kutangkis tangannya dan ku genggam erat kedua tangannya. Kami berdua merasakan hal yang sama. Sensasi sentuhan tangan menjalar keseluruh tubuh membangunkan sensor syaraf kenikmatan di seluruh tubuh. Hanya dengan memnggenggam tangannya aku bisa merasakan kenikmatan seluruh tubuhnya dalam beberapa detik sebelum kulepaskan perlahan. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. Hal tersebut terbukti jika kami kembali salting, kikuk, tidak enak hati, pokoknya rasanya tidak karuan. Sebenarnya bisa saja saat itu aku pamit pulang dan meninggalkannya sendirian. Tapi di kemudian hari kami kembali salting saat bertemu. Pasti berbahaya jika ada anak-anak pondok memergoki kita jika saling salting pasti kita di jodoh-jodohin malah tambah salting.

Aku terus bertahan di momen yang tidak enak tersebut berdua dengan Mas Dika di bawah pohon beringin yang rindang. Aku duduk di sampingnya memandang jauh tanah lapang yang terik di siang hari. Gay radar kami berfungsi dan berkedip. Aku mengikuti saja naluriku.

"Sebenernya aku laki-laki yang sama seperti sejenismu Mas." Statemenku mengagetkannya. Kurasakan dia akan menoleh dan ingin memandangi mataku namun sulit dilakukannya. Aku tetap memandang kosong jauh-jauh tanah lapang yang terik di siang bolong kala itu.

"Apakah kamu pernah main sebelumnya?" Tanyanya agak gagap sambil menoleh ke arahku. Baru kali ini ku dengar suara paling gentlemen dari Mas Dika, suaranya begitu berat, padat, terkesan romantis seperti ingin melamarku dan mengajak menikah.

"Pernah, sama pamanku. Lik Bambang, hingga saat ini dia masih menjadi pujaan hatiku. Namun sayang kini dia dipenjara karena kasus menghamili anaknya sendiri. Aku seperti ini bukan gara-gara dia, bukan salahnya, dia tidak salah. Aku seperti ini mungkin sedari lahir aku diciptakan seperti ini. Aku hanya memaksimalkan potensi gay radar yang kumiliki. Setelah Lik Bambang, kemudian ada salah satu Kakang Pondok, dan selanjutnya sampeyan." Jawabku panjang lebar, aku hanya mengikuti kata hatiku. Kurasa aku bercerita dengan orang yang tepat di waktu yang tepat. Aku merasa nyaman setelah bercerita panjang lebar.

"Kalau boleh tahu siapa Kakang pondok yang kamu maksud tadi?" Tanyanya penasaran.

"Maaf itu rahasia kami berdua. Ngomong-ngomong apakah sampeyan juga merasakan apa yang aku rasakan beberapa menit yang lalu? Sebuah rasa yang aneh di dalam hati yang tidak bisa ku jelaskan dengan kata-kata?" Tanyaku kemudian mengalihkan pembicaraan.

"Iya aku juga merasakan hal yang sama. Apakah kau mau menjalin hubungan denganku setelah ini. Maksudku... ah entahlah... lupakan saja... maksudnya... em..." Mas Dika terlihat gugup. Aku sungguh mengerti apa yang dia rasakan. Sudah kuduga dia akan jatuh cinta padaku. Seperti jatuh cinta pertama kali yang dirasakan seorang gay. Sama sepeti kemelut yang kurasakan saat aku jatuh cinta dengan Lik Bambang.

"Iya iya aku tahu apa yang kamu rasakan, aku juga pernah merasakan apa yang kau rasakan. Tetapi aku dikecewakan oleh cinta pertamaku, Lik Bambang. Kita jalani saja hubungan kita seperti air yang mengalir. Aku juga tidak tahu bagaimana kedepannya hubungan kita yang akan kita jalani. Yang jelas banyak godaan, konflik, bahkan stigma dari masyarakat penganut faham heteronormativitas."

Dia tersenyum padaku. Tanganku perlahan di sentuhnya. Kurasakan sentuhan jemarinya di punggung tanganku. Sentuhannya membuat syaraf kenikmatan di seluruh tubuhku terangsang membuat bulu kudukku berdiri nikmat, kontolku mulai berkedut di dalam sana. Untungnya bisa kutahan. Kini tangannya mulai menggenggam tanganku. Dia memberi tanda ingin mengajakku ke suatu tempat.

"Ayok main ke rumahku Han!" Ajaknya, sambil berdiri menggandeng tanganku.

"Mau ngapain Mas?" Tanyaku penasaran.

"Nonton film bagus! Pasti kamu belum pernah nonton. Aku sendirian di rumah, mamah sama papah ke Bali ada reoni keluarga, aku gak ikutan soalnya mau ada UAS," Bujuknya.

Kuturuti apa kemauannya. Kami pulang menuju rumah Mas Dika. Aku dibonceng belangkang dengan sepeda mininya.

***

Aku sering melihat Mas Dika di lapangan desa, aku juga sering melihatnya di pondok saat dia solat jumat dan solat teraweh, dia juga sering ikut tadarus dan patrol jika bulan ramadan. Bahkan kami sudah tahu nama masing-masing. Tapi baru kali ini aku menjalin hubungan dekat dengannya.

Setelah diajak main ke rumahnya, ternyata dia orang kaya di desa. Aku baru tahu kalau rumahnya di sini, lumayan jauh lah dari masjid. Rumahnya ada gerbangnya, di beberapa kamar ada AC nya, tidak ada sumur langsung pake ledeng jadi kalo mandi tidak perlu repot-repot nimba dulu, kamarnya luas ada AC, Springbed, TV, Komputer dll. Satu yang aku suka dari dia yaitu dia sangat sederhana. Tidak seperti pemuda kampung yang kayanya songong, pamer hape, pamer motor dan sebagainya. Kalo Mas Dika orangnya sederhana, dia juga selalu juara di kelasnya, tidak pernah pamer HP, bahkan HPnya sudah canggih kala itu mungkin tercanggih di antara anak kampung yang lain.

Kuperhatikan kamarnya sangat rapih bernuansa hijau segar. Pantas saja dia anak orang kaya karna orang tuanya guru SMA di kecamatan sebelah. Aku sungguh kikuk berada di rumahnya. Seperti orang kampung masuk mall berlantai 10, sungguh sangat kampungan lihat sana lihat sini.

"Han gak usah sungkan begitu, kamu teman pertamaku yang pernah ku ajak masuk ke kamarku loh!" Ujarnya sambil menyalakan monitor komputer di kamarnya, membuat lamunanku buyar.

"Emangnya sampeyan gak punya teman akrab Mas?" Tanyaku kemudian.

"Temenku ya cewek-cewek Han, mamah gak mengijinkan teman-temanku masuk ke kamar. Paling kita belajar kelompok dan menggosip di teras depan aja. Kalo kamu kan cowok jadi mungkin mamah mengijinkan kalau kamu nginep disini. Nginep disini aja ya Han, temeni aku, aku kan sendirian sekarang,"

"Emangnya di SMA, sampeyan gak punya teman cowok mas? Kan sampeyan pinter pasti banyak temennya,"

"Enggak Han cowok-cowok di sekolah anaknya nakal-nakal, aku gak cocok bergaul sama mereka, lagian mereka juga sepertinya ogah temenan sama aku."

Padahal beberapa jam yang lalu aku baru kenal dekat dengan Mas Dika tapi seolah aku sudah mengerti seluk beluk sifatnya. Aku jadi mengerti sisi lain dari sifat banci desa yang selama ini kemayu, namun berubah jadi gentleman saat menjalin hubungan serius dengan pria penyuka sesama jenis sepertiku. Suaranya berubah menjadi berat, gerakan feminim tiba-tiba menghilang, bahkan sifat spontannya juga berubah selayaknya laki-laki pada umumnya, seperti tadi saat aku dibonceng dengan sepeda mininya kemudian disalip mobil box pasir, dia sempat mengumpat misuh-misuh karena matanya kelilipan pasir, "jiancok assu...". Tak pernah kudengar sebelumnya kata-kata kotor keluar dari mulut manis Mas Dika sebelumnya, bahkan saat dia dibully habis-habisan sama pemuda kampung. Sifat laki-lakinya tidak pernah nampak.

gambar illustrasi, Sumbaer: Twitter @BrondongKampung


Kini Mas Dika yang ku kenal bukan lagi sebagai banci desa. Karena sejak kami bertatapan mata di lapangan tadi hingga sekarang sifatnya berubah total. Dia adalah remaja lelaki yang mempunyai wajah manis yang menyukai kontol.

Aku duduk di tepi ranjangnya. Kuperhatikan dia membuka-buka file di komputernya. Setelah itu dia memperlihatkan sebuah video gay bule tampan berorot gempal sedang berciuman di loker tempat fitness. Kedua kali ini aku melihat bokep gay, pertama di hapenya Lik Bambang kemudian di komputer Mas Dika, jika bokep laki-laki dengan perempuan atau lesbi aku sering melihatnya di henfon teman-temanku. Kuperhatikan bokep itu. Dari setiap detail adegan terus kuperhatikan. Hingga tak sadar ternyata tangan Mas Dika sudah hinggap dan meremas kontolku yang mulai ngaceng yang masih terbungkus celana pramuka. Aku sempat kaget tapi kubiarkan saja aksinya. Kontolku sepertinya sudah menegang total seolah akan nyembul keluar dari sela-sela sempak akibat remasan tangan Mas Dika. Kubiarkan saja aksinya, kuperhatikan terus videonya. Kurasakan nafas panasnya menghembus di belakang leherku dan tiba-tiba daun telingaku sudah basah di cecapnya. Aku merem merasakan kenikmatan yang ia berikan pada tubuhku. Kini tangannya mulai membuka kaosku dan aku mulai telanjang dada. Aku mengikuti naluriku tiba-tiba bibir kami bertemu dan beradu lidah. Ia melepaskan kemejanya dan kami kini sama-sama telanjang dada. Ia mendorongku ke belakang hingga aku terlentang di kasurnya yang empuk. Dia.mencipoki wajahku, leher, dada, perut, dan kemudian membuka celanaku dan membebaskan burungku dari sangkarnya. Kini kontolku bebas mengacung merdeka ke udara. Tertangkaplah ia oleh tangan Mas Dika kemudian di kocok ke atas ke bawah. Tidak lama kemudian mulut imutnya mengulum kontol perkasaku. Terkadang aku agak geli karena giginya sering menggaruk kontolku, akhirnya sering-sering kubimbing kepalanya agar tepat memasukkan kontolku ke tenggorokannya tanpa mengenai giginya. Aku masih memaklumi karena permainan ini adalah pengalaman pertamanya. Tapi jika sudah berpengalaman dan masih saja kena gigi pasti akan kutendang tubuhnya agar mulutnya menjauh dari kontolku, pasang celana, lalu pulang. Aku memang benci sekali kalo dioral sampai kena gigi. Sensasinya malah membuyarkan kenikmatan bersenggama, jadi kalo sampai kena gigi bisa sakit hati rasanya.

gambar illustrasi, Sumber: Twitter @Rizal88188286

Kulumannya semakin membuat kontolku berkedut dan panas. Itu tandanya kontolku minta ngandang di pantatnya. Kuraih tubuhnya kubaringkan di ranjang. Kini gantian aku yang mengarap tubuh langsingnya. Kulumati seluruh tubuhnya. Tanganku menggerayang di seluruh tubuhnya seperti tangan gurita. Ia mendesah keenakan. Kuemut kontol perawannya, dan hap! rongga mulutku menganga penuh diisi kontolnya. Dia menggelinjang keenakan. Aku suka tubuhnya, aku suka pribadinya yang ramah, aku suka sisi lain sifat gentlemen nya, aku suka melihat wajahnya, aku suka aroma tubuhnya. Kurasakan seolah sanubariku ingin menyatu dengan jiwanya. Tiba-tiba hasratku ingin menjilat pantatnya. Kuikuti saja instingku, kubuka lebar-lebar pahanya hingga anusnya yang mungil terpampang nyata. Ku belai lembut anusnya dengan tanganku. Dia menggelinjang keenakan. Kuludahi anusnya tanpa rasa jijik kujilati anusnya. Entah mengapa hasratku menginginkan itu. Hal tersebut adalah pengalaman pertamaku. Sebenarnya aku jijik tapi hasratku menginginkan demikian. Kumainkan lidahku di cincin anusnya dan reaksinya ia menggelinjang penuh kenikmatan bahkan menekan kepala belakangku agar wajahku tenggelam lebih dalam di pantatnya. Kucium aroma khas pantatnya yang sebenarnya tidak enak tapi menggairahkan hasratku untuk lebih mengeksplor syaraf-syaraf kenikmatan di area pantatnya. Aroma pantat yang tidak sedap menjadikan sebuah sensasi aroma kejantanan yang terus kujilati dari pusat aroma yang menyeruak. Setelah berpuas menikmati pantatnya kini giliran kontolku yang minta dimanjakan oleh pantatnya. Namun sebelumnya kuregangkan dulu bibir anusnya yang ketat dan perawan agar Mas Dika tidak kesakitan saat melakukan penetrasi. Kumasukkan jari tengahku yang sudah kulumuri ludahku ke anusnya. Reaksi tubuhnya terlihat tegang mungkin pengalaman pertamanya. Kujejalkan jari telunjukku masuk ke dalam anusnya. Reaksinya tetap menegang bahkan seperti orang mikir soal matematika yang sulit. Jari manisku menyusul masuk ke anusnya. Kini terdapat tiga jari yang berusaha melonggarkan rongga anusnya yang perawan. Reaksinya sedikit meringis tapi dadanya naik ke atas tanda dia menahan kesakitan.

"Aku masukin kontolku ya Mas, sampeyan sudah siap?" Tanyaku meyakinkannya. Ia menghela nafas panjang berulang kemudian menganggukkan kepala tanda ia siap diperawani.

Kumasukkan perlahan kepala kontolku di anusnya yang sempit. Sedikit hentakan dan paksaan hingga akhirnya kepala kontolku mulai masuk ke anusnya. Kutanyai keadaannya, "Gimana mas rasanya? awalnya agak sakit tapi di tahan ya, nanti lama kelamaan enak kok!" Ujarku meyakinkan.

Dia tetap tegang, dadanya naik turun mengatur nafas, ekspresinya meringis kadang kaku kadang seperti menahan sakit namun tetap saja ditahan. Aku sendiri melihat ekspresinya tidak tega. Aku tahu rasanya betapa sakitnya diperawani. Aku tidak akan memulai jika dia tidak memintanya.

Sudah beberapa menit berlalu posisi kami  masih terdiam membeku menunggu keputusan dari Mas Dika. Dia tampaknya sedikit takut, tidak seperti Kang Yasin yang pemberani dan frontal. Kepala kontolku sudah menancap dari tadi. Dia tampaknya ragu untuk melanjutkan tau mengakhiri permainan. Jikapun dia ingin mengakhiri permaninan aku tetap menghargai pilihanya walaupun sedikit kecewa. Kutanyai sekali lagi, "Gimana Mas mau dilanjutkan apa berhenti? Aku menghargai keputusannya sampean, kalo mau berhenti ya monggo, mungkin kita lanjutkan lain waktu. Tapi apakah kesempatan ini datang untuk kedua kali? Mungkin tidak akan datang kedua kalinya lo Mas?" Ujarku menakut nakuti agar aku tidak kecewa.

"Lanjutkan saja Han!" Suruhnya.

Kuambil ancang-ancang agar kontolku bisa sekali tusuk langsung masuk dengan seksama. Kulumuri lagi batang kontolku dengan ludahku. Satu, dua, tiga, kubimbing batang kontolku dengan tangan agar tidak bengkong saat mendesak masuk. Dan bleesss.....

Tubuhnya menggelinjang molat molet, tangannya meremas apa saja, kepalanya mendongak, mulutnya menggigit selimut tebal tanda menahan kesakitan luar biasa.

Masih kubiarkan kontol tegangku berada di sarangnya yaitu anus Mas Dika. Agar Mas Dika bisa beradaptasi dengan kesakitannya. Sekarang dia sudah melepas keperawanannya. Dia bukan perjaka lagi. Dia sudah kuperawani. Dan kita sudah sah bersetubuh ditandai dengan pertama kali masuknya kontolku ke anusnya.

Kulihat tubuhnya mulai relax. Mulai kumainkan kontolku maju mundur. Ternyata masih seret. Ketika kontolku mundur kurasakan bibir anusnya akan menutup dan akan mendorong kontolku keluar, tapi langsung kumasukkan lagi kontolku dengan paksa tanpa memberi kesempatan pantatnya untuk nutup. Dia miringis kesakitan hingga menangis tersedu-sedu memohon padaku agar kontolku keluar dari anusnya. Tapi tak kuturuti permintaannya, karena rasa sakit yang ia rasakan merupakan proses penetrasi pelepasan keperawanan. Jika kulepaskan kontolku dan menyudahi permainan maka ketika kita ngentot lagi suatu hari nanti maka ia akan merasakan rasa sakit yang sama seperti ini lagi. Maka kubiarkan saja kontolku terbenam di anusnya. Malah kumainkan kontolku maju mundur. Awalnya tak kuhiraukan dia menangis tapi lama kelamaan  sifat bancinya muncul lagi yang membuatku tak nyaman ngentot.

Kubungkam mulutnya sambil berkata, "Cowok gak boleh nangis! Cowok gak boleh nangis." Dengan nada mengancam seraya melototin matanya. Dia mulai berhenti menangis dengan air mata yang tumpah dari pelupuk matanya. Mas Dika mengambil nafas panjang dan dia mulai relax. Dia berhenti menangis namun masih menahan kesakitannya dengan meringis. Sesekali air matanya tumpah tapi kuhiraukan saja yang penting dia tidak menangis seperti cewek karena sikapnya menggangguku. Kugenjot terus kontolku. Dia tetap saja meringis kesakitan.

Kuganti posisi nungging doggy style. Saat kutusuk pantatnya, badannya tidak menolak hanya sesekali tubuhnya maju jika kutusukkan terlalu dalam. Kumundurkan lagi tubuhnya hingga pantatnya nungging lalu kugenjot lagi kontolku. Wajahnya ditenggelamkan di kasurnya yang empuk. Tiba-tiba ia mendesah ahkk..... uh.... emh....

"Gimana? Udah enakan kan?" Tanyaku. Mas Dika tidak menjawab ia terus mendesah sambil tangannya meremas sprei. Dia mulai menikmati. Kini kuberi kesempatan dia untuk mengendalikan kontolku. Kuubah posisi tubuhku. Aku terlentang di bawah sedangkan dia menduduki kontolku di atas menghadap ke arahku. Dia mulai menaik turunkan tubuhnya dengan kontolku yang menancap di buritnya. Tubuhnya naik turun perlahan, kubantu mengocokkan kontolnya. Dia semakin semangat dan semakin mendesah. Naik turun naik turun naik turun lebih cepat lebih cepat lebih cepat ahk... akh... auhh... emmh....

Kontolnya yang ku kocok tiba-tiba menegang memanas dan kemudian croooot.... crooott..... croooot.... crooot.... nyembur di perut, dada, leher, wajah, hingga rambutku. Kemudian ia lemas tak berdaya tidur disampingku. Dia mengusap-usap perut dan dadaku yang penuh pejuhnya hingga licin semua kemudian aku memeluknya. Kucepokin mukanya yang tidak berdaya. Kusuruh dia menjilati sisa pejuhnya di wajahku tapi dia benar-benar teler bahkan dia tak sanggup membalas ciumanku. Matanya sayu kemudian terpejam dengan nafas terenggah-enggah.

Kuangkat kedua kakinya dan kusampirkan dipundakku. Kini posisi kami sama seperti penetrasi awal tadi. Kemudian kontolku kuberi pelicin dengan melumuri sisa pejuhnya di wajahku dan kembali menggenjot. Kontolku menggenjot sekencang-kencangnya jleb jleb jleb... dia benar-benar tak berdaya hanya desahan kecil yang keluar dari sisa-sisa tenaganya. Kontolku semakin kencang menggenjot hingga kekuatan kuda dan kutarik kontolku kemudian kumasukkan lubang kontolku ke mulutnya yang sedikit terbuka lalu kesemburkan pejuhku masuk ke dalam rongga mulutnya. Tubuhku kejang dan crooooot....... crroooooot..... croootttt...... croooot..... crooot.... bibir Mas Dika yang sedikit menganga tak berdaya kini penuh pejuhku yang putih, kental, hangat dan licin hingga lumer tumpah di pipinya.

gambar illustrasi, Sumber: Twitter @BudakBangor92


Bibir Mas Dika perlahan menelan pejuku seperti bayi ngantuk mulutnya penuh asi. Kukecupi pipinya yang berlesung pipit. Kubaringkan tubuhku di sampingya kupeluk dia dan kami tertidur di siang bolong.


Dua tubuh lelaki telanjang yang panas dan lengket penuh pejuh terkapar di kamar berAC. Tidur berpelukan di siang bolong tanpa ragu kepergok orang lain. Desahan bokep gay menjadi musik pengiring tidur kami yang lelah akibat kegiatan pelepasan keperwanan...


Cerita selanjutnya baca: Menguras Pejuh Mas Dika, Ngentot Hingga Tiga Ronde Dalam Semalam (Cerita Johan) #6



Foundation Study ITIL