Menguras Pejuh Mas Dika, Ngentot Hingga Tiga Ronde Dalam Semalam (Cerita Johan) #6

Itil Foundation
Kubuka kelopak mataku dengan berat. Kornea mataku menyempit berusaha fokus dengan keadaan. Mataku menyapu ruangan ternyata yang kuamati bahwa aku sedang telanjang bulat beserta seorang lelaki yang juga bertelanjang bulat di sampingku dengan tangannya memeluk dadaku. Baru kusadari aku berada di kamar Mas Dika. Setelah ngentot memperawani Mas Dika tadi siang kemudian aku tidur pulas hingga hilang ditelan mimpi. Kucari letak jam dinding di sisi tembok kamar Mas Dika dan ternyata sekarang menunjukkan pukul 17.30. Kutoleh ke arah Mas Dika dia masih tidur pulas merangkul dadaku, mendengkur lirih serta mulutnya sedikit menganga. Aroma pejuh kering yang menyengat sedikit mengganggu indra penciumanku. Kubangunkan Mas Dika karena suasana sudah petang sedangkan kondisi rumahnya gelap gulita.

"Mas, Mas, Mas Dika bangun... udah malam!" Sambil kukoyak-koyak lembut lengannya.

"Hemm iya..." Jawabnya sambil berusaha mengangkat mata beratnya, dilanjutkan meregangkan tubuh kemudian menguap dan mengucek-ngucek matanya. "Oh udah magrib ya? Sebentar ya Han aku nyalain lampu rumah dulu." Kelakarnya sambil mengenakan celananya yang berserakan di lantai akibat aktivitas kami saat ngentot tadi siang.

Ia berpaling keluar kamar. Tidak lama kemudian satu per satu lampu di setiap ruangan di rumahnya terang. Kukenakan celana pramukaku yang sedari sepulang sekolah belum sempat ganti. Kuhampiri Mas Dika yang kelihatannya sibuk. Kesana kemari, ke dapur, ke ruang tengah, nyari kunci yang keselip, buka kulkas, nyalain kompor gas, tuang air. Dll.

"Lagi ngapain Mas? Sibuk banget?" Tanyaku penasaran.

"Mau masak buat makan malam. Kamu gak mandi dulu?" Tanyanya kemudian.

"Nanti aja ah masih males aku"

"Masih males apa pengen mandi bareng aku??" Godanya kemudian.

"Ih apaan sih Mas Dika ini, resek! Yaudah deh aku keburu laper kalo gitu aku mandi dulu ya!"

"Yaudah sana mandi aja dulu, aku masak dulu. Oh iya bentar aku ambilin handuk sama baju ganti ya. Nanti kamu nginep sini temenin aku. Oke!" Ujarnya sambil sibuk kesana kemari membuka-buka lemari membawakan aku handuk dan baju ganti.

***

gambar illustrasi, Sumber: Twitter @ozyfauzy2211

Pukul 9 malam aku yang sedari tadi melihat TV tiba-tiba dihampiri Mas Dika duduk dempet di sampingku sambil membawa dua cangkir susu panas dan dikasihkan aku satu. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku sambil menonton TV.

"Han permainanmu tadi siang enak banget loh!" Tiba-tiba ia memujiku.

"Oya?? Hahaha siapa dulu dong! Johan! Gini-gini aku sudah berpengalaman, jadi memperawani pantat itu bukan masalah Mas! walaupun sepertinya mudah tapi harus menggunakan skill khusus Mas agar lawan kita bisa klepek-klepek." Kelakarku membanggakan diri karena dapat pujian sebelumnya.

"Emangnya kamu pake teknik apa kok bisa sampai bikin aku klepek-klepek?"

"Kalau itu rahasia dong! Hahaha!"

"Hemm masak? Kalo gitu ayo buktikan lagi nanti malam, pokoknya kamu harus bisa bikin aku klimaks berkali-kali. Awas ya kalo cuma sekali nanti aku sentil kedua bolamu." Tantangnya.

"Boleh siapa takut, pokoknya kalo sampai aku berhasil membuat klimaks sampean lebih dari satu kali, pokoknya aku minta hadiah dari sampeyan."

"Apa itu?" Tanyanya kemudian.

"Kerjain semua PR ku dan tugasku di sekolah."

"Okeh, deal ya! siapa takut."

***

Di dapur kami saling berciuman. Lidah kami saling tangkis, saling emut dan saling sedot. Pipi, mata, hidung, kening, dagu, telinga, leher, tengkuk sudah ku cipok, sedot, kecup, cium, cecap, jilat, dll. Hal tersebut untuk pemanasan agar dia cepat bergairah. Kubuka kaosnya kuhempaskan kaosnya ke lantai, sementara mulutku tak ingin berlama-lama lepas dari mulutnya. Sementara bibirku menyipoki bibirnya, tanganku menggerayangi tubuhnya. Perut, punggung, dada, puting, iga, lengan, hingga bokongnya. Gilirannya yang ingin mencipoki wajahku, kubiarkan saja aksinya. Mata, hidung, pipi, kening, dagu telinga, leher, dan tengkukku tak luput dimanjakan oleh bibirnya yang mungil tipis agak kemerahan karena tidak pernah merokok. Bajuku dibuka dan dihempaskan di lantai. Ciuman kami sangat ganas kami saling mendorong tubuh lawan saking berseleranya. Tak jarang Mas Dika sampai pegangan dan tubuhnya bersandar di meja makan agar tidak tumbang ke belakang saat bibirku menyeruduk bibirnya.

Dari dapur kugendong tubuh kerempeng Mas Dika ke kamarnya. Kakinya melingkar di pinggangku, kugendong dia dan kuhempaskan tubuhnya ke springbednya. Dia tertawa manja. Kutindih tubuhnya kucipokin mulutnya beberapa menit kemudian kuplorotkan celananya. Sementara tangangku memplorotkan celananya, bibirku menyedot-nyedot putingnya secara bergantian. Kusedot-sedot, kusapu dengan lidahku, bagian puting, iga, dan perutnya. Dia menggelinjang keenakan. Tanganku membelai lembut kontolnya yang sudah ngaceng total sedari tadi yang masih terbungkus di dalam sempak. Terus ku gosok tonjolan sempaknya seperti menggosok teko aladin, dan tiba-tiba batang kontolnya mencuat mengacung tegak keluar dari sela-sela samping sempak. Kulepaskan sekalian sempak yang agak.mengganggu. dan sekarang Mas Dika benar-benar telanjang total dihadapanku. Tangan kiriku menggelitiki lembut kontolnya, tangan kananku menggelitiki lembut iga dan perutnya, bibirku menyedot-nyedot lembut serta lidah menyapu bagian dalam paha Mas Dika. Dia menggelinjang, molat-molet, kadang sedikit tertawa akibat gelitikanku, kemudian kembali berekspresi erotis menantangku.

gambar illustrasi, Sumber: Twitter @sadewa039

Kukecup-kecup mulut kepala kontolnya yang seperti mulut ikan. Aku mendongak ke atas, ia tersenyum bangga padaku. Kubalas senyumannya. Kukocok batangnya precumnya sedikit timbul. Kujilat precumnya yang bening rasanya asin khas rasa lelaki. Kulahap kontolnya. Pelan pelan kumasukkan hingga habis tertelan mulutku. Kepala kontolnya kuusahakan menyentuh tenggorokanku. Aku tersedak, terbatuk-batuk hingga air mata meleleh dari mata juga hidung. Kutelan lagi kontolnya namun tidak terlalu dalam. Kumaju mundurkan kepalaku terus menerus dengan ritme pelan hingga keras, terus menerus tidak berhenti. Kudengar dia mendesah keenakan. Ia menggelinjang tidak karuan. Desahannya tidak lagi bisa ditahan, ia benar-benar mendesah, merengek, teriak tanpa ragu seperti aktor video bokep gay yang ia tunjukkan padaku tadi siang. Tampaknya ia mulai melayang.

"Han... ak... aku.... hah.... emh.... aku... mau keluar...!!!" Desahannya. Kupercepat tenaga kocokanku. Kubuka mulutku di atas kepala kontolnya siap menerima tembakan pejuhnya.

"Njing.... uhh..." ia mengaum panjang.

Crooot... crooot.... crooot... Tenggorokan ku ditembak pejuhnya. Tidak kuinginkan pejuhnya tumpah dari mulutku maka kulahap kepala kontolnya. Kubiarkan rongga mulutku ditembaki pejuhnya yang hangat, licin, dan asin. Crooot.... crooot.... croooot.... crroooot... kupelankan kocokan tanganku di batang kontolnya. Kini rongga mulutku benar-benar penuh pejuh Mas Dika. Tak ada setetes pejuhnya yang berceceran di jembutnya. Semua berhasil kutampung dalam mulutku.

Mas Dika mendesah lega. Ia mengatur nafas. Bibirku yang menutup rapat kepala kontolnya kulepaskan hati-hati agar pejuh di dalam mulutku tidak tumpah. Sementara Mas Dika masih terengah-engah berusaha mengatur nafas yang tak karuan sehabis klimaks. Kemudian ku cepok bibir Mas Dika. Aku berbagi pejuh dengannya untuk dinikmati dan ditelan sama-sama. Kini pejuh Mas Dika yang awalnya ditampung dalam rongga mulutku, kini tampungannya lebih besar karena mulutnya juga ikut menampung pejuhnya. Kita mainkan dulu pejuh Mas Dika di mulut kami sebelum kami telan. Mengalir penuh ke rongga  mulutnya, kemudian di alirkan kembali ke rongga mulutku, kemudian kubagi lagi separo lalu kita telan bersama-sama sampai habis.

***

Aku berbaring di samping Mas Dika. Dia terengah-engah mengatur nafas dengan posisi lemas serta telanjang bulat, sedangkan aku masih telanjang dada dan memakai kolor milik Mas Dika. Aku masih bisa mengontrol emosi serta hasrat ku agar tidak meledak-ledak dan tenagaku bisa kuhemat untuk permainan selanjutnya. Aku harus bisa membawa terbang Mas Dika ke puncak kenikmatannya berkali-kali agar aku terbebas dari PR dan tugas sekolah. Maka dari itu aku harus mengontrol hasratku menjaganya agar tidak meledak-ledak dahulu pada sesi pertama. Dan ternyata aku bisa. Sudah 1-0 dalam hal ini aku yang juara karena masih punya banyak tenaga untuk memuaskan lawan.

Aku terlentang di sampingnya menatap ke awang-awang. "Kayaknya sebentar lagi ada yang punya kesibukan baru ngerjain PRku nih! Udah satu kosong, tenagaku masih perkasa untuk membobol lagi." Godaku. "Gimana Mas masih kuat? Dilanjutin lagi apa istirahat dulu?" Tanyaku menantang.

"Nantang ya! Awas kalo sampe aku belum klimaks tapi kamu udah klimaks duluan, bakal aku sodomi pantatmu!" Ujarnya menantang.

"Oh tidak bisa! Tenagaku tenaga kuda, mana mungkin aku klimaks secepat itu, buktinya tadi siang sampeyan klimaks duluan kan!"

"Okeh kalo begitu ayo coba buktikan!" Tantangnya. Mas Dika memberi kode agar permainan dimulai lagi.

Kuraih kontol Mas Dika yang baru saja tidur, kukocok-kocok ke atas ke bawah. Kontolnya masih terasa licin karena ada bercak liurku di sana yang belum mengering. Kucipok bibirnya yang sedari tadi sudah nyosor malu-malu pingin dilahap. Dada dan tubuh kami saling berdempetan, menggesek gesek hingga menimbulkan sensasi panas di kulit. Tubuh kami kembali gerah. Keringat mulai keluar membuat efek mengkilat saat diterpa sinar lampu kamar di malam hari. Aku beranjak, arahku menuju ke pantat Mas Dika. Kubuka kakinya, kulipat ke atas hingga belahan bokongnya  membuka memberi nafas bibir pantatnya. Kubelai lembut pantatnya dengan telapak tanganku. Jari telunjukku menyentuh area pantatnya. Bergerak melingkar dengan lembut mengitari anusnya. Sentuhan melingkar jariku semakin kecil dan terus mengitari anusnya. Sentuhan lembut jari telunjukku seperti melukis gambar spiral dari pinggir melingkar ke tengah. Kemudian jariku berhenti di pusat lubang anusnya. Rangsangan yang kuberikan tadi membuat bibir anusnya berkedut-kedut. Jariku masih berada di pusat lubang anus Mas Dika. Kuludahi tepat di anusnya kemudian jariku perlahan menyelinap masuk ke lubang anusnya dengan seksama. Kulihat ekspresi Mas Dika merem, mendongak ke atas serta menelan ludah seperti merasakan ketegangan yang penuh nikmat.

Kuputar-putar jariku di dalam sana seraya berusaha meraih sesuatu yang ada di dalamnya. Kukorek-korek terus lubang anusnya dengan jari telunjukku. Kutusuk-tusuk kemudian kemasukkan jari telunjuk tangan kananku. Kini terdapat 2 telunjuk sudah tenggelam dalam anus Mas Dika. Kurenggangkan seperti membuka bungkus snack Chiki. Ia mulai mengeluh menahan sakit karena lubangnya masih sempit karena baru kuperawani siang tadi. Ketika lubangnya mulai terbuka kemudian kuludahi lubang tersebut hingga sebagian liurku masuk ke dalam namun sebagian besar meleleh jatuh. Dengan sigap kutampung lelehan liurku tadi dengan kontolku yang mulai menegang, ku arahkan ke pusat lobang.

Langsung kumasukkan saja kontolku semua sampai dalam. Mas Dika kaget dan berterteriak "awww" sambil menggelinjang. Kugerakkan kontolku maju mundur maju mundur.  Mas Dika terus mendesah, namun kali ini desahan nikmat yang keluar dari mulutnya. Tidak tampak erangan sakit sedikitpun yang dieluhkannya. Kontolku terus menggenjot anusnya. Ia menggelinjang bahkan matanya bisa fokus ke mataku sambil tetap mendesah dan berekspresi erotis seperti menunggu kejutan yang kuberikan.

Ku angkat tubuhnya ke sana ke mari dengan posisi selalu berganti setiap 10 menit sekali. Mulai dari posisi terlentang, doggy style, tengkurap, bottom on top, berdiri, nyamping dari belakang dll. Hingga kira-kira 30 menit berlalu dia mengocok sendiri kontolnya sepertinya ia akan mengalami puncak lagi. Kupercepat tusukanku agar memberi kesempatan Mas Dika ngecrot lagi. Kutidurkan tubuhnya. Kuangkat bokongnya ke atas hingga aku bisa ngentoti anusnya dengan berdiri mengakangi tubuhnya. Kontolnya kini mengarah turun tepat di atas wajahnya. Mas Dika semakin berusaha keras mengocoki kontolnya sendiri. Dia mendesah-desah dan mengeluh semakin nikmat. Tubuhnya kejang dan kaku. Kemudian menyemburkan pujuhnya lagi. Dan jatuh di wajahnya. Crooottt.... croooottt..... crooottt..... crooott.... croooott.... croooott....

gambar illustrasi, Sumber: Twitter @top_medan

Kulepaskan kontolku kuturunkan bokongnya hingga ia tidur terlentang agar aku memberi kesempatan ia agar bernafas. Sementara ia ber istirahat kukocok kontolku sendiri agar hasratku tetap stabil. Sementara itu kumainkan pejuh Mas Dika yang jatuh di wajahnya dengan kuusap ratakan keseluruh mukanya. Namun pejuhnya kini tidak sebanyak tadi. Pejuhnya semakin sedikit bahkan separuh pejuh dan separuhnya precum bening yang keluar.

Aku berbaring di sampingnya sambil terus mengocok kontolku sendiri. Kemudian Mas Dika berbalik mengarah kepadaku. Ia tersenyum puas padaku. Ia membantu mengocokkan kontolku dengan santai.

gambar illustrasi, Sumber: Twitter @berondong_bugil

"Kamu menepati janjimu Han, kamu bisa membawaku ke puncak kenikmatan berkali-kali. Kini aku percaya sama kamu Han. Terima kasih ya..." ucapnya penuh syukur dan tulus.

"Sekarang giliranku Mas, Aku belum keluar, mau aku keluarin di luar apa di dalam Mas?" Tanyaku kemudian.

"Sesuka kamu Han, kalau aku maunya di dalam Han, aku percaya sama kamu Han" ucapnya benar-benar tulus.

Sepertinya Mas Dika mulai terbuai dengan permainanku. Aku khawatir permainanku bisa mempengaruhi isi hatinya. Aku sendiri tidak siap jika harus mengikat status dengan Mas Dika dengan cinta seperti orang pacaran pada umumnya. Aku tahu takdirku sebagai laki-laki yang tidak ditakdirkan mencintai seorang pria. Bolehlah jika ia mencintaiku tapi yang aku takutkan Mas Dika mengekspos kemesraan dengan ku pada orang lain. Aku takut sifat bencong dan mulut embernya malah menyebarkan rahasia kami kepada orang lain.

"Heh kok bengong aja! Ayo lanjutnya katanya mau dilanjutkan!" Ajaknya membuyarkan pikiranku.

Tanpa kujawab kuturuti saja permintaannya. Aku kembali bangkit dan kembali mengentoti silit Mas Dika. Kini aku fokus pada klimaksku. Aku sudah tidak peduli dengan lawan mainku. Aku benar-benar harus memanjakan kontolku sendiri karena sekarang saatnya giliranku untuk klimaks. Aahh.... nikmatnya.... ini benar-benar surga dunia.... kenikmatan tiada tara. Kontol kudaku dijepit silit yang baru saja rusak keperawanannya. Ahhh..... aku tak tak lagi memikirkan Mas Dika, entah dia lagi horny atau kesakitan yang penting aku merasakan kenikmatan. Tiba-tiba hasratku ingin menciumi wajah dan mulutnya. Kuciumi dia dengan membabi buta. Semakin ku percepat tusukan kontolku di silitnya, semakin cepat... semakin cepat... ahh.... tubuhku mengejang, bulu kudukku berdiri menjalar mulai dari punggung, tengkuk, hingga kepala. Keringat di tubuhku mulai deras mengucur menghujani tubuh Mas Dika. Aku mengejan sekuat tenaga... AAAKKHH.... FFAAAAKKK... Jriiiiitttt... CRRROOOOTT.... CRRROOOTTTT.... CROOOTTT... CRROOOOTTTT..... CRROOOTT....

Pejuhkku kukeluarkan di dalam tubuh Mas Dika. Kini sari patiku telah diserap tubuh Mas Dika disedot anusnya yang berkedut-kedut. Aku benar-benar menggagahi pria remaja yang baru melepas keperawanannya tadi siang. Banyak sekali pejuhku yang bersemayam dalam tubuh Mas Dika. Mungkin jika dia anak gadis akan hamil kembar 3. Namun ia tidak memiliki rahim. Jadi dia tidak akan melahirkan dari benih-benih pejuhku yang kutanam di dalam silitnya.

Ahh puas rasanya. Kucabut kontolku dan kurebahkan badanku yang sangat lelah penuh keringat yang mengucur.  Tak kusadari dari tadi ternyata Mas Dika juga mengocok kontolnya sendiri. Tak berselang lama kemudian ia mengejan hingga perutnya mengempis dan mengeluarkan pejuhnya lagi. Cruuut...ceruuut... cruuut... kulihat ternyata yang keluar hanya percumnya saja yang bening membasahi jembutnya, hanya ada beberapa bercak pejuh yang keluar bersamaan cairan precum. Namun pejuhnya yang keluar sangat sedikit sekali. Tampaknya hari ini adalah hari pengurasan pejuh dan tenaga si banci bencong kampung yang ngondek, feminim, dan kemayu Mas Dika.

***

Tenaga kami sama-sama habis. Udara kamar memanas walaupun AC tetap menyala. Tubuh kami lengket penuh keringat dan pejuh nyiprat di mana-mana.  Kami tidur berdempetan di atas ranjang. Memandang awang-awang sambil terenggah-enggah mengatur nafas. 

"Han aku cinta sama kamu, maukah kamu bukan hanya jadi sahabatku tetapi lebih dari itu, aku pengen kita pacaran," Kalimat yang keluar dari mulut Mas Dika, seraya nafasnya tersenggal-senggal karena sulit diatur.

Dan kata-kata itulah yang kukhawatirkan dari tadi, ternyata keluar juga. Mas Dika mencampur-adukkan permainan sex gay dengan urusan cinta yang berhubungan dengan hati. Aku masih bingung bagaimana status pacarannya orang gay, apalagi aku remaja gay kampung yang tinggal di pesantren. Coba saja kalau dia perempuan, mungkin gaya pacaran kita seperti anak kampung pada umumnya, telponan pada tengah malam, saling SMS tanya kabar, keluar naik motor pacaran di pasar malam, atau ngapel pada malam minggu kemudian cipokan di ruang tamu. Sedangkan kami adalah lelaki. Kami lelaki mana mungkin kami berperilaku mesra seperti anak pacaran pada umumnya. Karena mereka berorientasi pada pernikahan. Apakah kami akan menikah dikemudian hari? Tidak mungkin kan! Mungkin jika kita sahabat tidak jadi masalah. Pikiranku terus berkecamuk.

"Han, han. Kamu mikir apa sih? Kamu dengerin aku gak sih?" Katanya membangunkan aku dari kemelut pikiranku.

"Em gimana ya, aku nggak bisa Mas menjalin cinta sama sampeyan mas, emm..., kita sahabatan saja ya," Kataku bingung mau bilang apa takut menyakiti hatinya.

"Jadi kamu nggak cinta sama aku? Terus pandangan apa yang tadi siang kau isyaratkan padaku? Terus kita ngentot segala seperti ini artinya apa? Kau mau mempermainkan aku?" Tanyanya mencerca dengan nada amarah.

"Bukan gitu mas maksudku, aku hanya mengikuti naluriku sebagai gay. Jujur saja aku hanya ingin bersenang-senang saja Mas, aku tak ingin berhubungan lebih intim lagi seperti pacaran Mas, sampeyan tau sendiri kan kalau kita ini laki-laki. Maafkan aku ya Mas."

"Oh ternyata bener kamu hanya mempermainkan aku. Jancok kowe Han!"

"Terus kalo kita pacaran, lalu apa? Mau bermesra-mesraan? Mau pamer pacar ke teman-temanmu? Terus mau telponan dan SMSan setiap hari? Kalo boleh jujur ya Mas, aku tuh memang cuma maen-maen aja, tapi asal kamu tau aja ya Mas, aku tidak ada niatan untuk menyakitimu. Walaupun aku mencari kenikmatan bagi diriku sendiri, tapi aku juga memikirkan kenikmatanmu juga Mas, kamu juga sama-sama mendapatkan kenikmatan kan!?" Bentakku. Dia hanya terdiam. Kemudian ia miring membelakangiku seraya memakai selimutnya. Kudengar ia terisak-isak menangis yang tertahan, namun berusaha disembunyikan dariku. Tampaknya aku memang menyakiti hatinya.

"Maafkan aku mas, aku kelewatan karena emosi. Maaf kan aku mas, aku benar-benar minta maaf, kita sahabatan aja ya, entar aku kenalkan sama kakang pondok yang sejenis kita deh!. Maain aku ya..." Mohonku sambil merangkul tubuhnya dari belakang. Ia tetap membelakangiku, bahkan tanganku yang melingkar di perutnya disibakkan dari tubuhnya pertanda menolak pelukanku. Aku salah tingkah. Lalu kubiarkan kemauannya. Aku memberi kesempatan agar dirinya sendiri dulu. Kubalikkan tubuhku ke samping kemudian mengambil selimut dan tidur di dalamnya. Kami tidur di bawah selimut yang sama namun saling tidur membelakangi.

***

Pada tengah malam kurasakan ia memelukku dari belakang di balik selimut. Kurasakan tangan Mas Dika memelukku.

"Aku udah maafin kamu Han, maafin aku juga ya, baik kita sahabatan saja. Aku ingin kita bersahabat selamanya..." Bisiknya di belakang daun telingaku. Mataku tetap memejam, aku seakan berada di antara dunia nyata dan mimpi. Aku kembali terlelap lenyap dan hilang semuanya...

***

Kubuka mataku, suara adzan subuh malengalun mendayu-dayu dari kejauhan. Kutoleh di sampingku sudah tak ada lagi sosok Mas Dika. AC di kamarnya sudah mati, pintu kamarnya terbuka serta terlihat cahaya lampu menyala di salah satu ruangan di luar sana. Aku bangun dan kulihat ternyata dia sedang belajar di meja belajat dekat ruang keluarga.

"Selamat pagi Mas, kok sudah bagun," tanyaku menghampirinya.

"Pagi Han, aku sedang belajar buat ujian pagi ini di sekolah." Jawabnya datar.

"Maafin aku ya Mas soal tadi malam." Sambil kupeluk dia dari belakang.

"Udah deh Han gak usah dibahas lagi, aku sudah melupakannya"

"Oke deh kalo gitu kita tetap sahabatan kan?" Tanyaku meminta keyakinan.

"Oke-oke terserah. Mau sahabatan, temenan, pacaran terserah kamu."

"Tuh kan masih ngambek. Oke gini deh, kapanpun kalo sampean pengen ngentot lagi kasih kode aku deh, tiap sore aku selalu maen bola di lapangan. Temuin aku di sana ya oke, kalo gitu aku pulang dulu ke pondok ya."

Kukecup pipinya dari belakang. Dia tidak merespon dan tetap fokus ke buku pelajarannya. Tetap ku tinggalkan dia dengan rasa kikuk, seperti orang asing lagi. Mas Dika tak mengantarkanku. Ia membiarkanku pulang sendirian.

Aku berbalik, berjalan keluar. Di pertengahan ruangan kutengok lagi ke belakang, Mas Dika tetap membeku sibuk belajar membelakangiku. Kulanjutkan langkahku keluar menuju pintu kamar tamu, kulihat bayangan tubuhnya yang memantul di samping jendela samping pintu ternyata dia menoleh ke belakang melihat langkahku keluar dari rumahnya sendirian menandakan bahwa dirinya masih berharap. Kulanjutkan perjalanan pulangku...


Cerita Selanjutnya Baca: Pengalaman Pertama Ngentot 3Some Bareng Kang Yasin Dan Mas Dika (Cerita Johan) #7


Baca "Cerita Johan" Dari Awal: Keperawananku Direnggut Lik Bambang (Cerita Johan) #1
Foundation Study ITIL