Adit Dan Ega Ngeloco Bersama (Kisah Remaja Biseks) #3

Itil Foundation
Minggu pertama liburan UN, Adit dan Ega sudah menjelajahi satu per satu club seantero Surabaya. Mereka berajojing ria hingga pukul 2 malam. Mereka berdua bebas hura-hura tanpa ada gangguan dari pacar masing-masing yang selalu menanyakan kabar, karena pacar mereka Angel dan Putri sedang sibuk menjalani bimbingan masuk PTN di luar kota selama sebulan. Setiap malam Adit dan Ega berganti-ganti tempat nongkrong, dari tempat club satu ke tempat club yang lain. Hampir setiap malam mereka menghabiskan satu pitcher bir Bintang dengan kapasitas 4 botol besar, dan dua pack rokok Marlboro. Pada pukul 11 siang mereka baru bangun tidur dan langsung muntah-muntah namun tidak kapok untuk dilanjutkan pada malam selanjutnya. Mereka terus minum sepanjang malam melepaskan rasa lega dari momok UN. Dentuman musik dari DJ yang keras membuat mereka semakin semangat minum dan mengepulkan asap rokok di meja barnya.

Ketika mereka berajojing di Emperor Club tidak pernah muncul lagi teman mereka yang bernama Tika. Tika adalah seorang LC atau Lady Companion yang bekerja di kelab malam. Tugas Tika adalah mencari pelanggan sebanyak-banyaknya agar betah berajojing dan menghamburkan uangnya di tempat Tika bertugas. Penghasilan Tika digaji bulanan oleh pengelola club serta ceperan-ceparan gadun yang berkantong tebal pelanggan club tempat Tika bekerja. Dulu waktu sebelum UN, Adit dan Ega selalu minta ditemani oleh Tika untuk sekedar diajak minum bersama. Namun setelah UN, sudah dua kali Adit dan Ega berkunjung ke Emperor Club tempat Tika bekerja namun tak ada dia di sana.

Sebenarnya Tika adalah kenalan Ega karena dia ngekos di kosan milik keluarga Ega. Tika adalah senior di tempat kos milik papa Ega. Dia menjadi penarik iuran serta tagihan kosan pada setiap penghuni yang kemudian di transfer pada rekening Ega. Sedangkan Ega selalu berkomunikasi dengan Tika untuk pengaduan customer seperti jika ada kerusakan atau genteng bocor yang harus segera diperbaiki oleh pemilik kosan.

Ega sudah diajarkan mamanya untuk mengelola pendapatan dari penyewaan kamar kos. Ia diajarkan pembukuan keuangan serta mengelola aset keluarga. Walaupun Ega masih SMA, namun ia sudah diberi kepercayaan oleh keluarganya untuk mengelola hasil dari penyewaan kosan. Diharapkan 10 tahun kemudian hasil kosan bisa diinvestasikan lagi untuk beli tanah jikalau bisa langsung dibangun kosan lagi. Maka dari itu Ega hampir kenal semua seluruh penghuni kosan, termasuk Tika yang diberi kepercayaan oleh Ega untuk menjadi asistennya yang ditugaskan menarik iuran serta tagihan bulanan yang kemudian disetor ke rekeningnya.

Keesokan harinya setelah Adit dan Ega berajojing di Emperor Club, setelah makan siang Ega mendapat pesan WA dari mamanya disuruh untuk meninjau langsung ke kosan serta menagih tagihan bulanan para penghuni. Ega mengajak Adit untuk berkunjung ke kosan milik orang tua Ega. Mereka berdua meluncur ke daerah kampus di Surabaya menggendarai Honda Jazz milik Ega. Sesampai di sana Adit dan Ega meninjau langsung kondisi kosan tersebut. Ega disapa ramah oleh penghuni kos yang kebanyakan berusia lebih tua dari usianya. Kebanyakan dari penghuni kos adalah mahasiswa dan karyawan. Namun ketika Ega berkunjung ke kosan seluruh penghuni tampak ramah menyambutnya. Hampir semua penghuni kosan memanggil Ega dengan sebutan Bro. Bahkan penghuni kosan yang berbeda usia jauh dengan Ega mempunyai gaya tos yang khas saat bertemu dengan Ega. Kebanyakan para penghuni kos bergaya hidup bebas sama seperti Ega dan Adit. Bahkan ada salah satu penghuni kos yang seluruh badannya dipenuhi tatto dan tindik karena ia adalah seniman tatto yang mempunyai bisnis studio tatto di ruko kecil dekat kampus. Walaupun dilihat dari segi fisik sangat brandalan namun ia paling friendly sama Ega. Walaupun Ega masih remaja namun karakternya tak kalah dengan orang dewasa penghuni kosan. Ega juga bisa mengimbangi dan masuk di ranah mereka.

Gaya hidup penghuni kosan milik keluarga Ega sangat bebas. Walaupun ada Ega sang pemilik kosan, tapi mereka tidak sungkan membawa masuk pacarnya untuk dientoti di kamar kosnya. Ega tak mempermasalahkan hal itu, karena sudah menjadi tanggung jawab penghuni kosan masing-masing dan kebebasan yang diberikan Ega justru membuat penghuni kosan merasa senang, betah, dan lebih friendly. Mereka juga saling kompak dan saling menjaga pada penghuni kos lainnya hingga kosan aman terkendali namun tetap bebas.

Ega menuju kamar Tika. Dengan ramah Tika mempersilahkan masuk Ega dan Adit. Ega memperhatikan seisi kamarnya yang dinilai sangat boros listrik. TV, AC, kulkas mini dan laptopnya menyala, belum lagi ia juga menyalakan penghangat air mandi karena baru saja Tika selesai mandi, belum lagi hairdryer yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut basahnya, ditambah hiternya yang menyala karena membuatkan kopi untuk Adit dan Ega. Namun Ega sudah tak mempermasalahkan pemborosan listrik bagi penghuni karena setiap kamar sudah diberi meteran PDAM dan meteran listrik sendiri-sendiri. Jadi listrik dan air sudah menjadi tanggungan penghuni sendiri.

"Tik kamu kok lama gak ke Emperor sih malam minggu dan tadi malem kita ke sana loh!" Kata Ega sambil mengaduk-aduk kopi buatannya sendiri.

"Sory Ga, aku butuh waktu sendiri dulu. Soalnya aku baru putus sama pacarku, aku memergoki dia selingkuh. Jadi aku bilang ke bosku untuk cuti sebulan dulu."

"Oya terus gimana tuh ceritanya?" Tanya Adit.

"Jadi waktu itu, semalam sebelum aku berangkat ke Emperor, aku mampir dulu di minimarket dekat Emperor beli rokok, nah di samping minimarket itu kan ada cafe gitu kan, nah aku lihat dengan jelas ya dari kasir minimarket, cowokku tuh jalan bareng sama anak seumuran SMA gitu. Gila, dia duduk dempet dan pegang-pegang bokong itu cewek. Gak pikir panjang aku samperin dia dan kita berantem di cafe itu. Setelah itu langsung aku putusin dia di cafe itu. Semenjak kejadian itu aku kurang fokus ke pekerjaanku. Hingga aku ditegur bosku. Akhirnya aku cerita semuanya permasalahannya sama bosku dan minta cuti dulu biar aku bisa menenangkan diri. Nah besok paginya dia datang ke sini minta maaf memohon-mohon agar kita balikan. Idih males banget sama cowok bajingan kayak dia, akhirnya barang-barangnya serta bajunya semua yang ada di sini aku keluarkan semua dan kuusir dia dari sini."

"Terus terus dia udah pergi dari sini? Bukannya kalian udah cinta mati gitu sampai kumpul kebo segala?" Lanjut Ega.

"Awalnya sih gitu. Tapi aku mikir lagi cowok hanya modal kontol kayak dia ngapain juga harus aku pertahanin? Orang yang kerja nyari duit aku bayar kosan dan makan aku. Dia enak cuma numpang." Keluh Tika dengan nada emosi.

"Oke oke gini deh. Mendingan kamu ikut kita aja jalan-jalan ke Bali besok naik mobilku, kita bertiga aja. Yah... untuk menenangkan diri sih siapa tahu setelah kita pulang dari Bali pikiran kita jadi fresh lagi. Gimana?" Ajak Adit secara spontan. Sebenarnya Adit dan Ega tidak ada rencana sama sekali untuk berlibur ke Bali apalagi naik mobil bertiga. Adit hanya memberikan solusi instan pada temannya Tika, seseorang yang berjasa karena banyak menghiburnya ketika ia cemas akan menghadapi UN. Tika sering menemani mereka saat itu untuk minum sampai mabok dan membuat mereka berdua lebih baik dan menikmati dunia lebih maksimal.

Adit mengedipkan mata ke arah Ega untuk memberi kode agar ikut membujuk Tika. Dengan sigap Ega menangkap maksud Adit. "Oh betul Tik gimana kalo kamu ikut kita aja! Liburan ke Bali, clubing di sana siapa tahu kamu dapat bule kaya loh!" Ujar Ega.

"Iya betul-betul di sana kan banyak bule ya, siapa tahu kamu kecantol Tik, gimana ikut ya?" Tambah Adit.

"Gimana ya... aku pikir-pikir dulu deh." Jawab Tika.

"Oke deh kalo gitu segera hubungi kita ya kalo udah fiks!" Tutup Ega.

***

Malam harinya setelah Adit dan Ega berkunjung ke kosan Tika, mereka berdua berenang di rumah Adit. Setelah mereka berenang, kemudian masuk ke kamar lalu memutar musik Bon Jovi keras-keras. Mereka sibuk membuka-buka majalah Playboy, namun sudah tidak menarik lagi. Mereka berdua menyalakan laptop membuka file berisi bokep namun juga tak menarik lagi. Namun hasrat mereka sangat menggebu yang harus dilampiaskan. Handuk yang mereka lilitkan di pinggang sudah dilepaskan. Kini Adit dan Ega sudah telanjang bulat dengan kondisi kontol sama-sama ngaceng. Mereka bingung tidak ada pemacu hasrat karena gambar model berbikini di majalah Playboy dan puluhan bokep di laptop sudah tidak menarik lagi karena sudah bosan dilihat berulang-ulang kali. Tangan mereka sudah mengocok kontol masing-masing namun masih bingung membayangkan sosok cewek siapa yang akan menjadi objek fantasinya.

"Bro toket Jupe dan Dewi Persik Bro mantap..." kata Adit sambil mengocok kontolnya sendiri sambil terlentang di kasur, mengajak Ega berfantasi dengan objek cewek fantasi yang sama.


"Sshh haaah... mmmhh... memek Nabila dan Haruka JKT48 lebih imut dan tembem, kayaknya mereka masih perawan Bro... sshhh..." kata Ega sambil mengocok kontolnya sendiri sambil bersandar di sofa, mengajak Adit berfantasi dengan objek cewek fantasi yang masih remaja yang kelihatannya masih perawan.


"Uhhh... eemmhh.... Chelsea Islan dan Raisa pake bikini di pantai bro... ahhkk... terus kita peluk dia... kita ciumi toketnya terus kita jilatin memeknya... huhh... mantap..." kata Adit sambil terus mengocok kontolnya yang semakin cepat.

"Tika bro... Tika!!! bayangin dia dandan seperti suster sexy... abis itu... kamu yang jadi dokter... aku yang jadi pasien... teruss... kita garap Tika rame-rame, kita maen 3some di ruang klinik dokter broh... aakkkhh...shiiitt..." ujar Ega dengan fantasi liarnya sambil menahan klimaks namun terus mengocok kontolnya.

"Ia brooo Tika broo... dia mengeluh kesakitan brohh... pipinya aku gebukin pake kontol aakkhhh... njriit...."


Ega dan Adit menyemburkan pejuh hampir bersamaan. Pejuh mereka yang putih, kental, licin, dan melimpah tumpah ruah di perut mereka masing-masing, bahkan ada yang muncrat hingga ke muka dan ke rambut mereka.

Musik Its My Life dari Bon Jovi mengalun dengan semangat mengiringi puncak kenikmatan sepasang sahabat remaja tersebut yang sedang asik berfantasi.


***

Tika sejatinya adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Ia mendapat beasiswa bidik misi yang dibiayai pemerintah selama tiga setengah tahun. Namun karena ia tidak lulus tepat waktu maka beasiswanya sudah dihentikan dan ia harus menanggung biaya SPP persemesternya. Ia mahasiswi semester 10 namun tak kunjung mengerjakan skripsi hingga sekarang. Bahkan mata kuliahnya masih banyak yang belum ditempuh. Mata kuliah yang dapat nilai D juga masih banyak yang belum diulang. Ia sudah diambang drop out, namun bukan menjadi masalah besar baginya.

Tika asli Banyuwangi yang merantau ke Surabaya. Sudah 3 tahun ia tidak pulang. Di Banyuwangi ia tinggal dengan nenek, paman, ayah, adik tiri serta ibu tiri. Mama kandungnya menjadi TKW bekerja di Hongkong. Ia jarang sekali berkomunikasi dengan keluarganya bahkan sekarang sudah lose contact. Lagi-lagi ia tidak mempermasalahkan ketidakpedulian keluarganya terhadap dirinya. Ia sudah mandiri yang bisa menghidupi dirinya sendiri.

Tampang yang cantik dan body sexy adalah modal utama baginya. Ia sudah mendapatkan pekerjaan yang nyaman dan pendapatan yang lebih dari cukup dengan hasil kerja keras yang ia capai. Manager Emperor Club telah bergantung dan memberinya kepercayaan padanya untuk terus bekerja di club malam yang ia kelola, karena kinerjanya yang bagus dan selalu melebihi target perusahaan untuk menggaet orang-orang kaya yang haus akan hiburan malam. Tak jarang ia dapat tip dari ceperan gadun karena telah menemaninya minum di Emperor Club. Belum lagi gajian bulanan yang rutin ia terima dari club malam. Untuk bisa hidup berkecukupan ia menjadi simpanan puluhan gadun yang berkantong tebal. Sekali tidur dengannya, 3-5 juta dapat ia kantongi. Selain itu kerja lembur menjadi LC di tempat karaoke juga menambah pundi-pundi penghasilannya.

Walaupun ia punya banyak simpanan om om kaya dari berbagai profesi, namun cinta matinya tetap pada Rangga yang sudah 3 tahun dipacarinya. Rangga adalah cowok cakep namun bergaya hipster yang tampilannya acak-acakan. Ia tinggi kurus suka ngobat, ngiprit, dan nyimeng. Pekerjaannya serabutan dan tidak jelas serta tidak menghasilkan uang. Rangga selalu sibuk dengan vespa, BMX, skateboard, gambar grafiti liar di tembok-tembok gudang, serta hobi motretnya yang cenderung dihabiskan hanya untuk hobi saja namun tidak menghasilkan uang. Bahkan semua kebutuhan hobi Rangga ditanggung oleh Tika termasuk membeli pil anjing dan ganja. Walaupun memanfaatkan Tika namun Tika sangat mencintainya, begitupula Rangga.

Namun sayang beberapa minggu yang lalu Tika memergoki Rangga selingkuh yang sangat melukai hati Tika. Hancurnya hati Tika membuatnya ia tidak fokus bekerja hingga memutuskan cuti agar bisa menyelesaikan masalahnya dan kondisinya pulih kembali. Sebenarnya Tika tidak mau jika ia harus berpisah dengan Rangga karena ia masih sangat mencintainya, namun ia sangat sakit hati dengan perbuatan Rangga hingga ia harus memutuskan status hubungannya. Ia memang butuh refreshing untuk menyegarkan otaknya.

***

Keesokan harinya setelah mendapat kunjungan dari Ega dan Adit. Pukul 7 pagi Tika menelpon Ega.

"Halo Ega, ini Tika. Bagaimana apakah kalian jadi liburan ke Bali?" Sapa Tika dalam saluran Telepon.

"Eemmh oh iya Tik, kita mau berangkat. Huuuaaahhh...." jawab Ega malas sambil meregangkan tubuh dan menguap lebar karena belum 100% terbangun dari tidurnya.

"Apa aku boleh ikut? Setelah aku pikir aku terima tawaran kalian. Aku mau ikut kalian ke Bali. Boleh?"

"Okee... (herrrrrgg)." Ega kembali hilang dan sempat mendengkur lirih.

"Ga... Ega... kamu masih di sana? Kamu masih tidur ya. Oke gak papa kok lupakan saja. Makasih telah menawariku." Tika kecewa karena brondong tengil tersebut dianggap tidak serius mengajaknya. Ia sedikit meratapi kesedihannya karena tidak ada yang peduli padanya ketika hatinya sedang hancur.

Ega langsung berusaha melototkan matanya yang masih kering dan mencegah Tika untuk menutup telponnya. "Halo! Iya halo Tik! Sory aku ngantuk banget soalnya tadi malem habis berenang dilanjutin main PS sampai subuh. Gimana-gimana? Jadi bener kamu mau ikut?" Tanya Ega semangat.

"Emang gak papa kalo aku ikut?"

"Ya tentu lah kamu boleh ikut. Gak ada kamu gak asik kali, ntar kita disangka homo."

"Oke deh kalo gitu? Jam berapa kalian jemput aku?"

"Secepatnya!"

***

"Broo... broooo.... bangun broo... Tika barusan telpon aku katanya dia mau ikut kita ke Bali broo... ayo segera siap-siap?" Kata Ega sambil membangunkan Adit di sampingnya.

"Hah emang kita mau ke Bali?" Tanya Adit masih bingung dengan nada malas bangun tidur.

"Gila lu bro, kan itu idemu. Kemaren kamu yang ngajak dia mau liburan ke Bali kan?!"

"Tapi itukan bercanda brohh..."

"Tapi dia menganggap serius bro! Kemaren kamu bilang ke Tika, gimana kalo kamu ikut kita ke Bali besok? Gitu kan, nah dia menganggap sekarang kita udah siap mau berangkat ke Bali. Dan dia mau ikut kita Bro!!"

"Serius?!" Ujar Adit tegas sekaligus tidak percaya. Kini ia sadar 100% dari tidurnya. "Yaudah kalo gitu ayo siap-siap!"

***

Adit dan Ega berangkat dengan membawa tas ransel berisi pakaian sekenanya. 4 potong kaos oblong, 4 potong celana pantai, sendal jepit, kemeja Hawaii, topi fedora, dan bola. Mereka berdua bergegas meluncur ke kosan Tika mengendarai mobil Honda City milik Adit. Namun sebelumnya ia mampir ke Carrefour untuk belanja snack, roti, cookies, soft drink kaleng, kopi kaleng, 10 botol bir besar, serta kondom. Troli mereka hampir penuh. Mereka sangat bersemangat berbelanja di supermarket tersebut. Saking bersemangatnya mereka berdua berlarian ke sana ke mari sambil mendorong troli yang dimainkan seperti anak kecil mendorong mobil-mobilan. Di dalam supermarket mereka saling tertawa gembira dan membuat heboh seisi supermarket. Ega naik ke troli yang didorong Adit keliling supermarket sambil belanja. Sebuah cerminan sepasang sahabat yang bahagia.

***

Adit dan Ega sudah sampai di kosan Tika. Mereka bertiga kemudian berangkat meluncur ke Bali. Waktu di perjalanan hati mereka sedikit ketar-ketir karena uang yang mereka bawa tinggal 1 juta. ATM Adit dan Ega sudah dihabiskan minggu pertama liburan UN dengan menghambur-hamburkan di club malam. Namun solusi yang ditawarkan Tika sedikit mengurangi rasa was-was mereka. Di Bali, Tika punya banyak teman yang dulu pernah kerja di Emperor Club. Mungkin mereka bisa sedikit bergantung pada teman Tika tersebut.

Sudah hampir 4 jam tapi mereka masih di Pasuruan, mereka terjebak macet berjam-jam dan ternyata di depan ada kecelakaan maut truk lawan truk hingga menewaskan sopirnya. Perjalanan sedikit lancar setelah melewati truk yang ringsek dan terguling tersebut.

Di dalam perjalanan yang masih panjang mereka bertiga saling bergurau, tertawa-tawa dan saling menceritakan kehidupan masing-masing hingga tercermin sosok kepribadiannya di mata teman-temannya. Tika mengemukakan argumennya tentang kehidupannya yang keras penuh perjuangan dan survival. Ia sudah tidak memikirkan kuliah karena baginya pendidikan tidak akan berhubungan dengan suksesnya mencari uang. Baginya orang sukses tidak perlu harus kuliah tinggi-tinggi. Namun ia tidak menyalahkan sistem perkuliahan yang sudah menjadi imej pintu kesuksesan bagi orang-orang yang mempercayainya. Tika menyerahkan kembali pada pilihan orang yang beragam pendapat tentang hal itu. Sedangkan Adit dan Ega masih merasa terbelenggu dengan mindset bahwa perkuliahan adalah pintu kesuksesan. Walaupun pada dasarnya mereka menyukai kebebasan, namun mereka didoktrin oleh orang tua mereka yang mengharuskan mereka untuk kuliah. Sebenarnya mereka menyetujui pendapat Tika, namun apa boleh buat mereka harus memilih Jurusan yang mereka sukai yang akhirnya mereka dikendalikan kebebasannya oleh orang tua mereka dengan keterikatan sistem perkuliahan. Akhirnya mereka pasrah dalam keterbelengguan sistem perkuliahan yang merampas kebebasan mereka yang benar-benar bebas.

Mereka bertiga mulai lelah. Tika yang duduk di depan menyandarkan joknya agar ia nyaman tidur. Ega berbaring tidur di jok belakang dengan menekuk kakinya. Sedangkan Adit harus berusaha keras agar tidak menutup kelopak matanya karena sibuk menyetir. Tika dan Ega sukses mendengkur, sementara Adit hanya ditemani oleh ocehan 2 penyiar radio lokal pria yang hebring dengan celotehan yang sedikit kebanci-bancian. Penyiar radio tersebut membacakan sms dari pendengar setia yang bagi-bagi salam dan request lagu. Acara radio yang membosankan bagi Adit tak dihiraukannya dan tetap diputar karena membantu memecah kesunyian karena dirinya ditinggal tidur oleh Tika dan Ega.

Ega dan Tika terbangun dari tidurnya setelah Adit memberhentikan mobilnya di pom bensin Probolinggo untuk memberi minum mobilnya. Ega terbangun segera mengelap liurnya yang menetes di pipinya. Tika dan Ega keluar untuk membasuh muka. Perjalanan kembali dilanjutkan, kini giliran Ega yang menyetir.

Obrolan seru mereka bertiga berlanjut kembali. Kali ini mereka menceritakan tentang persahabatan Adit dan Ega. Adit membuka rahasia pada Tika bahwa kontol Ega lebih kecil dibandingkan punyanya. Adit dan Tika terbahak-bahak karena membully Ega. Ega salting mukanya memerah malu karena dibully. Ega langsung membela keperkasaan kontolnya bahwa walaupun lebih kecil namun kontolnya lebih perkasa, penuh urat, dan lebih tahan lama dibandingkan kontol Adit. Ega juga membuka rahasia pada Tika bahwa kontol Adit tidak tahan lama dan jika konak sedikit bengkong ke kiri. Seketika Ega dan Tika tertawa terbahak-bahak melihat Adit dibully. Giliran Adit yang salah tingkah, namun ia tidak bisa mencari kelebihan bentuk kontolnya lagi.


Mobil mereka mendarat ke bahu jalan parkir di pinggir aspal. Mereka bertiga turun lalu menuju warung lalapan kaki lima untuk mengisi perut mereka yang capek ketawa terbahak-bahak. Waktu makanpun mereka masih bercerita tentang pengalaman seksual mereka. Adit bercerita tentang pengalaman seks pertamanya dengan pacarnya Angel. Hingga kini dia mengaku tidak pernah melakukan seks dengan wanita lain selain dengan Angel. Ega menceritakan cerita seks pertamanya saat dengan mantannya. Waktu itu dia kelas 3 SMP sedangkan mantannya kelas 2 SMA. Ia merasa kecolongan saat itu karena ia mengaku tidak mengerti apa-apa hanya diajari ciuman saja. Waktu itu Ega belum mengerti sepenuhnya tentang cinta, gaya pacaran mereka hanya sebatas pacaran layaknya cinta monyet, namun ketika diajak ml sama mantannya ia hanya menikmati kenikmatan seks saja tidak berbaur dengan cinta. Ia merasa kecolongan karena dicuri perjakanya. Mereka semua terpingkal-pingkal mendengar pengalaman seks pertamanya Ega yang konyol.

Selanjutnya giliran Tika yang bercerita. Tika mengaku melepas keperawanannya waktu sudah kuliah. Ia mengaku bahwa dulunya ia pendiam, dan termasuk siswa berprestasi di kelasnya waktu masih SMA. Namun semenjak kenal pacaran dan ml waktu kuliah, ia mengakui sangat haus akan seks. Tika juga mengaku pernah berhubungan seksual lesbi sama teman butchynya. Ia mengaku ml bareng cowok atau cewek sama-sama enaknya. Tika mulai berhubungan lesbi karena dia pernah hamil dengan mantannya namun ia gugurkan, akhirnya ia ada sedikit trauma ml dengan cowok, namun hasrat seksualnya tetap menggebu, akhirnya ia lampiaskan dengan teman butchynya.

Adit dan Ega semakin penasaran cerita Tika tentang persetubuhan lesbi. Mereka tertarik karena juga doyan nonton bokep lesbi. Tika berkelakar hingga membongkar memori lamanya. Kini Adit dan Ega sudah mengetahui karakter Tika yang hiperseks. Walaupun Tika lesbi, namun Adit dan Ega tidak memandang aneh atas pengakuan Tika. Mereka menerima fenomena yang marak terjadi di kota metropolitan bahkan menjadi lifestyle anak-anak muda. Adit dan Ega sudah terbiasa dengan pengakuan jati diri lesbi atau gay yang terbuka. Adit dan Ega tidak membenci kaum gay atau lesbi yang dianggap menyimpang oleh masyarakat. Mereka hanya cukup tahu.

***


Mereka sudah sampai di Watudodol Banyuwangi, sebuah dusun sebelum pelabuhan Ketapang batas ujung timur pulau Jawa. Rumah Tika berada di dusun Watudodol yang berada di pinggir jalan pantura. Saat mobil Adit akan melintasi rumahnya, Tika sedikit menyandarkan joknya. Ia memperhatikan rumahnya dari kejauhan. Ternyata ada ramai-ramai di sana. Di depan rumahnya terpasang bendera palang berwarna hijau tanda ada kematian. Tika memandang rumahnya terpaku hingga menoleh ke belakang namun badannya sedikit disembunyikan dengan menyandarkan joknya. Ia tidak tahu pasti siapa di antara keluarganya yang meninggal, apakah paman, nenek, adik tiri, ibu tiri, atau ayah kandungnya??. Tika tidak bisa berkata-kata, dadanya sesak karena merasa bersalah. Air matanya menetes ke pipi tanpa sepengetahuan Adit dan Ega. Sebenarnya bisa saja jika ia minta Ega untuk menghentikan mobilnya lalu lari masuk rumah lalu memeluk siapapun jasad yang telah meninggal untuk meminta maaf walaupun itu jasad ibu tirinya yang paling ia benci sekalipun. Namun pilihan Tika yaitu tetap meneruskan perjalanan untuk mencari kebebasannya. Tika merahasiakan hal ini pada Adit dan Ega yang tidak tahu apa-apa. Mobil Honda City hitam terus melaju tanpa ada yang melemparkan uang recehan sebagai sumbangan bela sungkawa pada keluarga yang ditinggalkan.

Cerita Selanjutnya Baca: Adit Dan Ega Diperkosa Tika (Kisah Remaja Biseks) #4

Baca "Kisah Remaja Biseks" Dari Awal: Cara Ngentot Sepasang Sahabat SMA (Kisah Remaja Biseks) #1
Foundation Study ITIL