Berondong Straight Diperawani Gadun Gay Di Bali Joe Club (Kisah Remaja Biseks) #5

Itil Foundation
Sudah pukul 12 siang akhirnya mereka bertiga sudah sampai di Denpasar. Kini Tika mulai menghubungi rekan kerjanya dulu waktu menjadi LC di tempat karaoke di Surabaya. Ia menghubungi Icha dan ternyata kontaknya masih aktif. Ia bekerja menjadi penari striptis di Sky Garden Club di Legian. Akhirnya tujuan mereka ke Legian terlebih dahulu.

Tika mengabari kalau dirinya sekarang lagi liburan ke Bali dengan 2 teman cowoknya. Ia liburan ke Bali dengan membawa uang pas-pasan bahkan sekarang keuangannya semakin menipis. Tika meminta bantuan informasi pada Icha untuk menanyakan kosan murah yang bisa dipakai mingguan untuk tempat mereka tinggal. Tika juga memohon bantuan agar dirinya diberi pekerjaan biar bisa menyambung hidup bertiga di Bali.

Icha berbaik hati, ia memberikan informasi kosan murah yang bisa dipakai mingguan biasa dipakai karyawan mall tinggal. Biayanya cukup murah jika dipakai seminggu. Lokasinya di daerah Seminyak tidak jauh dari Kuta, hanya 250ribu seminggu dan sudah termasuk kamar mandi dalam. Tika menyetujuinya. Kemudian Icha juga berbaik hati untuk memberikannya jobb, Tika akan dijual kepada bule-bule berkantong tebal untuk dijadikan teman tidurnya. Lagi-lagi Tika menyetujuinya.

Kini tujuan mereka sudah diputuskan akan tinggal dan menyewa kamar kos selama seminggu di daerah Seminyak. Ega memacu gasnya agar cepat sampai di tujuan. Icha sudah stand by di depan terminal Ubung yang berjanji mengantarkannya ke kosan yang dituju.

Sesampainya di terminal Ubung Tika keluar menyambut Icha sambil berpelukan lalu cipika cipiki. Kemudian Tika mengenalkan Icha pada sahabat barunya yaitu Adit dan Ega. Adit dan Ega berjabat tangan lalu melempelar senyum ramah pada Icha. Tika dan Icha lalu masuk ke mobil di bangku belakang lalu Ega kembali menancap gasnya menuju ke kosan yang dimaksud. Icha tak henti-hentinya mengarahkan Ega untuk mengatur haluan mobil. Setelah sampai di Seminyak mobilnya masuk ke gang-gang kecil dan sampailah di kosan yang akan ditempati Tika, Adit, dan Ega.

Sebuah kosan sederhana yang banyak anjing kampung serta banten canang sari di setiap pojok ruangan. Aroma asap dupa yang menyeruak melingkupi seluruh area kamar kosan tersebut. Icha sudah terbiasa dengan suasana Bali seperti ini, namun sedikit asing bagi Tika, Ega, dan Adit. Icha menemui pemilik kos yang akan di tempati Tika dan kawan-kawannya. Ibu pemilik kos sangat senang sekali kedatangan tamu dari Surabaya. Ia mempersilahkan masuk untuk melihat-lihat kondisi kamar. Kosan tersebut berisi 2 ranjang, 1 lemari, dan kamar mandi dalam. Tika menyetujui setelah bernegosiasi dan melakukan pembayaran di awal.

Icha minta diantarkan pulang ke kosannya di daerah Kuta tak jauh dari Seminyak. Semuanya ikut karena tak ingin ada yang timggal sendirian di kosan. Mereka melucur ke daerah Kuta. Sesampainya di sana, kosan Icha tampak lebih mewah dan rapi dibandingkan kosan milik Tika dkk. Kemudian Icha langsung membuat janji pada Tika untuk beetemu di Sky Garden nanti malam pukul 11 malam. Tika menyetujui lalu kembali pulang ke kosan.

Uang mereka tinggal 100 ribu yang harus dibelanjakan mie instan untuk bertiga yang dimasak di dapur umum kosan. Mereka bertiga harus bersabar atas keterbatasan materi.

***

Malamnya Tika siap bertemu Icha. Tika datang tepat waktu lalu. Tak lama kemudian Icha datang mengenakan kostum bikini sexy dengan sayap berbulu khas penari striptis. Tika diajak masuk oleh Icha ke Sky Garden, namun Adit dan Ega menunggu di luar di emperan monumen bom Bali sambil minum bir bintang sisa pembelian waktu mereka berangkat ke Bali. Malam itu adalah malam penghabisan. Rokok tinggal 5 batang dan bir tinggal 2 botol. Adit dan Ega harus bersabar menunggu Tika keluar dari klub 3 hingga 4 jam ke depan. Kehidupan malam di Kuta Bali yang sangat bebas sealiran dengan jiwa bebasnya Adit dan Ega. Semua orang baik bule dan lokal berjalan sambil membawa bir bintang dan menghisap rokok baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan semua bebas merdeka. Namun Adit dan Ega tak merasakan kemerdekaan tersebut, mereka seperti gelandangan kurang makan. Mereka tidak menikmati kehidupan malam Kuta seperti bule bule yang lalu lalang. Tidak disangka Adit dan Ega kehabisan uang di Bali yang harus menahan hasrat untuk bersenang-senang. Hal ini akan menjadi pelajaran seumur hidupnya.

***

Tiga jam kemudian Tika keluar menggandeng bule Australia. Tika menghampiri Adit dan Ega yang duduk di trotoar seperti gelandangan. Tika menyuruh Adit untuk mengambil mobilnya yang di parkir untuk mengantarkan Tika dengan teman bulenya bernama Andre ke hotel tempat Andre menginap. Adit dan Ega menuruti saja permintaan Tika. Mereka merasa seperti diperbudak Tika, namun apa boleh buat, Tika adalah leader dalam konteks liburan ini.

Adit memacu mobilnya ke jalan Kuta di hotel tempat Andre menginap. Setelah Tika dan Andre keluar mobil, Tika memberikan uang seratus ribu untuk makan malam Adit dan Ega yang sudah kelaparan sedari tadi. Tika masuk ke hotel menemani tidur Andre dan berjanji akan balik ke kosan sebelum tengah hari. Ega dan Adit sedikit lega karena mereka punya pegangan 100 ribu setidaknya bisa buat makan berdua dan membeli rokok persediaan untuk besok pagi. Mereka kembali pulang menuju ke arah kosan sambil mampir di warung lalapan di jalan.

***

Satu hari di Bali sudah mereka lewati. Tika datang pukul 11 siang naik taksi. Dan benar saja. Adit dan Ega belum sarapan karena uangnya sudah habis dibelikan rokok dan makan tadi malam. Tika sedikit jengkel pada mereka karena Adit dan Ega tidak bisa berhemat dengan uang yang pas pasan. Namun Tika tetap sabar dan tidak memarahi berondong ingusan tersebut. Ia langsung mengajak Adit dan Ega makan di rumah makan yang sedikit mewah karena Tika diberi uang 700 ribu oleh Andre. Baru kali ini mereka bertiga makan mewah di rumah makan semenjak petualangannya di Bali. Adit dan Ega makan kenyang hingga tak mampu berjalan. Mereka memanfaatkan kondisi keuangan Tika yang lumayan tebal karena habis jualan memek. Dan sebentar lagi mereka akan menuju ke pantai kembali ke tujuan awal mereka.

Mobil Honda City melaju menuju arah Nusa Dua. Tujuan mereka adalah pantai Pandawa. Baju ganti juga sudah disiapkan. Tika sedikit lega karena baru saja dapat rejeki nomplok dari bule Australia. Di dalam perjalanan mereka sudah berharap dan meninggikan ekspektasinya untuk segera nyebur ke pantai yang biru. Masih dari pintu masuk pantai Pandawa, mereka sudah takjub melihat pemandangan indah. Mereka melihat takjub tebing terbelah yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri. Baru pertama kali ini mereka ke pantai Pandawa. Tika sudah kegirangan karena aroma pantai yang khas sudah diciumnya. Dan benar saja pantai biru membentang luas sudah terlihat dari atas tebing. Adit segera menancap gasnya agar segera sampai dan nyebur ke pantai.



Tika mengenakan bikininya sedangkan Adit dan Ega mengenakan celana pantai Billabong-nya, mereka berlari nyebur ke pantai yang biru seperti warna langit. Mereka sangat girang seperti anak kecil. Adit memegang kedua tangan Tika, sedangkan Ega memegang kaki Tika lalu mereka mengayunkan tubuh Tika lalu melemparkannya ke pantai. Mereka saling tertawa lepas, seakan lupa dengan kondisi keuangan serta masalah pelik yang mereka hadapi. Semua sudah berlalu. Seolah-olah tujuan mereka berlibur sudah terpenuhi.




Tika duduk berteduh di bangku payung pantai yang disewakan oleh warga setempat. Ia minum kelapa muda langsung dari batoknya. Ia menikmati suasana pantai yang biru, ombak yang tenang, serta matahari yang terik. Adit dan Ega masih asik bermain bola dengan menggiring bola kesana-kemari serta seekor anjing kampung bores dan jelek seolah ingin bermain bola bersama mereka. Ega dan Adit asik berebut bola tanpa memperdulikan anjing yang berlari kesana-kemari ingin mengejar bola.


Matahari sudah condong ke barat, mereka bertiga siap pulang kembali ke kosan. Adit menancap gas, pulang ke kosan. Mereka pulang dengan hati puas dan ingin mengulangi besok lagi.

***

Uang mereka sisa 500 ribu. Malam harinya mereka ingin sedikit bersenang-senang nongkrong di cafe sambil minum-minum. Tika menuruti permintaan Adit dan Ega namun ia membatasi nongkrong tidak boleh menghabiskan uang lebih dari 300ribu. Adit dan Ega sepakat, mereka memutuskan nongkrong di cafe bar kecil di gang Puppies Line. Di sana mereka nongkrong santai seraya mendengarkan musik country dari band indie. Barnya tampak ramah dan friendly. Pegawainya sok akrab dengan pengunjung. Pantas saja jika bar tersebut banyak pelanggan bule yang tampaknya sangat akrab pada pengunjung satu dengan pengunjung lainnya. Adit, Ega dan Tika selalu ditanggap sama bar tendernya diajak ngobrol ngalor ngidul. Mereka sangat asik menghabiskan malam di bar tersebut sambil mendengarkan alunan music country yang rancak.

Tak disangka ternyata mereka bertiga menghabiskan duit hingga 400 ribu. Biaya membengkak. Tika mulai ketar-ketir, ia harus memikirkan makan apa untuk mereka bertiga setidaknya dalam sehari besok. Tika mulai panik yang terus mengajaki pulang ke kosan. Kepala Tika kalut dan akhirnya membeli mie instan lagi 6 bungkus untuk persediaan makan besok pagi. Dalam hal ini hanya Tika saja yang bingung memikirkannya, sedangkan Adit dan Ega hanya sibuk bersenang-senang saja, tapi jika kesulitan sudah dihadapi barulah mereka menyesal.

Paginya Tika memutuskan untuk tidak melancong dulu karena uang mereka kembali menipis. Tika mulai emosi kembali ketika situasi seperti ini datang lagi. Tika mulai menuntut Adit dan Ega juga turut serta untuk menyumbang keuangan. Namun Adit dan Ega tidak bisa apa-apa ia hanya bisa minta mamanya saja namun hal tersebut tidak mungkin dilakukan karena pasti mama mereka tahu kalo mereka sedang di Bali karena bisa dilacak kartu debitnya digesek dimana saja, sedangkan mereka berada di Bali. Mereka tidak ijin pada mama mereka kalau sedang pergi di Bali apalagi bersama seorang cewek pasti kalau mama mereka tahu akan dimarahi habis-habisan. Tika memutuskan meminjam uang Icha serta juga mempekerjakan brondong-brondong itu biar bisa menghasilkan.

"Halo Cha, ini Tika. Eh men kamu ada kerjaan gak buat Adit sama Ega? Kami kehabisan duit lagi nih." Ujar Tika kebingungan.

"Kok cepet banget say habisnya? Bukannya baru kemaren kamu dikasih Andre? Emangnya duitnya buat apa aja?" Tanya Icha.

"Kemaren kita nongkrong, minum minum sampe abis 400. Kalo gak ada kerjaan buat mereka boleh pinjamin aku duit gak?" Ujar Tika memohon.

"Yaelah Tik nggak bilang-bilang ke aku sih kalo mau nongkrong. Ntar malem deh kita nongkrong dijamin pulang mabuk tanpa keluar duit, malah banyak saweran. Oke?! Kalo gitu ntar malem kita nongkrong, jemput aku ya jam 11 malem." Ujar Icha memberikan solusi.

"Oke deh say sampai jumpa entar malem, bye...." tutup Tika yang merasa lebih tenang. Namun kini ia harus benar-benar menghemat uang 85ribu untuk makan mereka bertiga setidaknya untuk sehari.

***

Malam itu Adit, Ega, Tika, dan Icha nongkrong di salah satu kelab malam di Seminyak. Icha membawanya ke Bali Joe bar and club sebuah club kaum lgbt ternama di Bali. Begitu mereka masuk para gay sudah berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan musik dj yang mendentam. Para queer cantik berlenggak-lenggok di panggung berpakaian kabaret seperti kostum karnaval di Rio de Janeiro Brazil. Para mengunjung lokal dan bule berbagi minuman. Baik pengunjung cowok maupun cewek, lokal atau bule, tua dan muda, pada dasarnya mereka lgbt. Di sinilah tempat mereka menghabiskan malam di Bali yang sangat semarak.


Icha heboh ketika teman-temannya berada ditable dekat DJ, ia menghampiri diikuti oleh Adit, Tika, dan Ega. Icha bergabung dengan teman-temannya lalu memperkenalkan Adit, Ega dan Tika. Teman-teman Icha banyak yang gay dan lesbi bahkan saking hebohnya saat bertemu mereka saling mengecup bibir tanda keakraban baik pada laki-laki maupun perempuan. Namun karena Adit, Ega, dan Tika belum kenal maka mereka cukup berjabat tangan.

***

Malam semakin semarak. Pengunjung di club Bali Joe mabuk semua termasuk Adit, Ega, Tika, Icha beserta gengnya. Icha memulai beraksi mencari ceperan. Ia melihat sekumpulan butche (lesbi yang berpenampilan maskulin) lalu mengajak Tika untuk bergabung. Tak lama kemudian Tika sudah nyaman bergabung dengan sekumpulan butche tersebut. Mereka minum-minum lalu berciuman menikmati bibir cantik Tika dan Icha. Tika sudah berpengalaman menemani pengunjung clubbing jadi mereka langsung intim dengan tidak membutuhkan waktu lama.



Sementara Tika asik berciuman dengan sekumpulan geng butche, lalu Icha kembali ke teman-temannya. Icha lalu mengajak Adit dan Ega ke table om-om gay yang kelihatan kaya. Dalam hal analisis Icha adalah ahlinya, ia bisa mengetahui apakah gadun bule tersebut kaya atau gembel walaupun hampir tidak ada bedanya. Pilihan Icha jatuh pada segerombolan gadun gay lokal dan bule beserta beberapa kucing bot nya yang manja di table belakang yang sedikit sepi dan tidak begitu terekspose. Icha masuk ke ranah mereka dengan membawa serta Adit dan Ega seraya berbisik-bisik pada salah satu gadun. Bahwa Icha menawarkan dua brondong straight yang perawan dan baru lulus SMA pada segerombolan gadun-gadun gay tersebut. Setelah tahu tujuan Icha, gadun-gadun gay tersebut sangat bahagia dan welcome atas kedatangan Adit dan Ega. Gadun berotot lengan sebesar paha tersebut mulai mengenalkan diri pada Ega dan Adit lalu mempersilahkan mereka minum berbagai macam minuman keras yang tersedia di table mereka. Adit dan Ega mulai takut karena lirikan mata gadun yang maut membuatnya tidak nyaman. Awalnya Adit dan Ega diam saja namun langsung grogi saat om-om gay lokal berotot besar menggodanya seperti menggoda gadis desa yang lugu. Saatnya Icha beraksi, ia mendekati Ega dan Adit menjelaskan pada mereka bahwa gadun-gadun tersebut hanya butuh teman dugem dan minum saja. Icha menyuruh Adit dan Ega agar bersikap biasa saja seperti temannya sendiri, kemudian Icha mempersilahkan Adit dan Ega minum sesuka hati. Adit dan Ega mulai tenang dan mulai meneguk minuman yang tersedia di meja. Gadun gadun tersebut mulai menyoraki Adit dan Ega memberi semangat saat minum sampanye teguk demi teguk. Adit dan Ega mulai teler namun masih bisa mengendalikan pikiran mereka, mereka masih sadar bahwa dirinya bersama sekelompok om-om gay berbadan besar.

Salah satu gadun bule meletakkan uang 100 ribu di meja dan boleh diambil Ega atau Adit dengan syarat salah satu dari mereka harus mencium bibirnya. Icha terus menyokong agar Adit atau Ega mau menerima permintaannya. Mereka agak ragu dan tetap terdiam. Kemudian gadun lokal meletakkan 200 ribu di meja, boleh diambil Adit atau Ega kalau mau cipokan dengannya. Icha terus menyemangati Adit dan Ega agar mau mengambil tawarannya. Adit mengambil kesempatan itu, ia merasa berhutang budi pada Tika dan ingin menyumbang penghasilan untuk mereka hidup bertiga di Bali. Adit mengalah dan mau menerima tantangan dari gadun lokal tersebut. Ia maju dengan sedikit ragu. Seluruh gadun beserta kucing botty-nya memberi tepuk tangan tidak terkecuali pengunjung di table sebelah menyemangati Adit yang akan melepas bibir perawannya pada gay. Ia duduk malu di samping gadun lokal yang memberi ceperan 200 ribu padanya. Seluruh ponsel sudah bersiap menangkap momen menakjubkan tersebut.

Adit pasrah yang mulai dikelilingi homo dengan memposisikan ponsel yang akan merekamnya. Gadun lokal berotot lengan sebesar guling tersebut mulai merangkul tubuh Adit yang kurus. Kedua tangan kokoh gadun tersebut mulai memegang pipi Adit dan langsung melahap bibirnya dengan beringas. Gadun tersebut menciumi bibir Adit dengan sangat nafsu, ia menjilat-jilaiti bibir Adit, namun Adit menutup rapat bibir dan matanya. Adit sangat tegang karena bibirnya diperawani gay. Penonton bersorak heboh yang tak henti hentinya memotret dan merekam momen tersebut dengan kamera ponselnya. Kemudian tangan tebal gadun tersebut mencengkeram rahang bawah Adit yang rapuh hingga mulut Adit menganga. Gadun tersebut memasukkan lidahnya ke lubang mulut Adit. Adit kaget dan sedikit berontak namun kepalanya ditahan oleh rangkulan lengan besar gadun tersebut yang seperti lengan hercules. Adit tak berdaya ia pasrah dengan membiarkan mulutnya dicipok bibir lelaki macho dengan sensasi jambang kasar menyentuh pipinya. Adit langsung teringat betapa nikmatnya ketika ia berciuman dengan wanita seperti Angel, Putri, dan Tika. Namun kini ia harus ikhlas diciumi lelaki macho, ia sedikit jijik memikirkan hal tersebut namun ia tak bisa berontak karena pelukan gadun macho tersebut sangat kuat hingga dirinya tak bisa berkutik. Penonton semakin ramai tak henti-hentinya menyoraki aksi pelepasan keperawanan bibir bocah straight Adit dengan gadun macho gay lokal tersebut. Ega tak kuasa melihat langsung aksi sahabatnya. Ia sangat jijik dan mual ketika melihat bibir Adit diobok-obok oleh lidah tebal om-om macho tersebut.

Malam itu di Bali Joe semakin meriah. Gogo boys menari telanjang hanya memakai celana dalam berbahan kulit. Mereka berputar-putar dan bergelantungan di tiang pole dance, menari-nari seraya memamerkan lekuk ototnya yang mengkilat. Gay kampungan yang baru pertama kali berkunjung langsung heboh tak karuan. Hanya pengunjung tetap Bali Joe yang berani nyawer dengan menyangkutkan uang atau dolar di celana dalam mereka seraya meraba-raba kontolnya yang menonjol di balik celana dalam berbahan kulit yang mereka kenakan. Bibir Adit sudah diganyang gadun gay lokal bertubuh gempal yang nongkrong bersama gengnya di table belakang. Namun permainan belum selesai. Si gadun bule meletakkan uang 300 ribu di meja buat Adit atau Ega yang berani dioral kontolnya. Gadun lokal meletakkan uang 400 ribu di meja. Tak mau kalah gadun chinese meletakkan uangnya 450 ribu di meja berharap Adit atau Ega memilihnya. Icha terus memberikan suport pada Adit dan Ega agar mau mengambil kesempatan emas tersebut, terutama pada Ega yang belum menghasilkan duit sama sekali. Ega merasa tertantang namun agak takut dan grogi. Adit sudah tak mau lagi, ia menyerah,  ia merasa hina karena melakukan aksi yang memalukan di hadapan orang banyak. Baginya uang 200 ribu sudah cukup, dan tak akan pernah mau menerima tantantangan lagi. Si gadun bule gemuk berusia 50 tahun itu menambah 25 dolar lagi di meja taruhannya. Kini si gadun bule unggul, dialah yang paling banyak bertaruh 300 ribu dan 25 dolar jika di total sekitar 600 ribuan hanya untuk memperawani kontol brondong straight tersebut. Dengan sedikit cemas Ega menerima tantangan itu. Teman-temannya kembali bersorak sorai memberi selamat pada Ega dan gadun bule tersebut.

Ega berdiri di depan gadun bule gemuk tersebut. Teman-temannya kembali heboh dan melingkar seraya sibuk mengambil momen berharga tersebut dengan kamera ponselnya masing-masing. Gadun bule tersebut memplorotkan celana pantai Ripcurl beserta kancut yang dikenakan Ega dihadapannya. Penonton heboh dan bersuit-suit bahkan ada yang mengambil kesempatan untuk meraba-raba bokong berondong straight yang akan melepas keperawanan kontolnya untuk diemut om-om gay gemuk. Saat celana Ega diplorotkan ia agak malu lalu menutupi kontolnya dengan kedua tangannya. Semua penonton kecewa dan menyoraki agar Ega membuka tangannya. Akhirnya Ega dengan terpaksa memlepaskan tangannya dan merelakan kontolnya yang masih tidur yang dilihat puluhan pasang mata. Semua yang melihat bertepuk tangan memberikan apresiasi. Gadun bule tersebut mulai mengocok kontol Ega. Ega sedikit kaget dengan memundurkan panggulnya namun lama-lama Ega terbiasa. Ega sadar banyak mata kamera yang merekam adegan memalukan tersebut akhirnya ia menutup mukanya dengan tangannya karena rasa malu yang sudah tak dapat ditolelir lagi. Ega berdiri sambil menutup muka membiarkan kontolnya dikocok gadun bule yang memberinya upah uang. Teman-teman si gadun tersebut bersorak sorai sambil sibuk memposisikan ponsel mereka.


Dentuman musik DJ yang energik bersamaan dengan masuknya kontol Ega di mulut bule tersebut membuat pecah suasana. Penonton girang lalu merayakan dengan bersulang. Salah satu gay bule yang sedikit ngondek yang termasuk geng gadun-gadun kaya tersebut menuangkan wine di gelas kecil kemudian memberikannya ke Ega. Ega meminum wine tersebut sambil berusaha menikmati kuluman bule gemuk tersebut yang mengemut kontolnya dalam-dalam. 5 menit sudah mulut bule gemuk tersebut tidak lepas dari kontol Ega. Ega sedikit menggelinjang saat menerima rangsangan gelitikan di pelernya. Ega mulai menikmati permainan gadun tersebut. Tangan Ega yang awalnya lunglai kini naik dan melipatnya di belakang kepala. Badan Ega yang awalnya mematung kini mulai bereaksi dengan memaju mundurkan pinggulnya untuk menyodok bagian dalam kerongkongan bule tersebut. Reaksi Ega berhasil memukau penonton lalu kembali bersorak dan bertepuk tangan. Hanya Adit saja yang tetap diam speechless tidak percaya bahwa sahabatnya berani di emut kontolnya sama laki-laki macho tersebut. Adit tidak menyangka bahwa sahabatnya juga mau kontolnya dikulum laki-laki, ia pikir Ega adalah lelaki sejati yang kontolnya hanya nusuk memek dan mulut perempuan saja, tapi ternyata ia bisa terbuai dengan laki-laki juga.

Ega sudah hampir klimaks. Ia semakin semangat menusuk mulut om-om bule gendut tersebut. Pinggulnya maju mundur semakin cepat. Tapi gadun bule tersebut malah menyudahi permainan. Hal tersebut merupakan strategi gadun gay saat memperawani straight. Setelah Ega melambung tinggi memang sengaja langsung diturunkan tanpa memberi kesempatan meledak duluan. Karena dengan strategi tersebut si gadun bisa make Ega kapan-kapan tanpa imbalan uang hanya bermodal janji-janji manis untuk dapat memuaskan si berondong tersebut. Begitu laki-laki straight sudah pernah merasakan melambung bersama gay artinya ia sudah terkontaminasi menjadi gay, dan gampang diajak melakukan hubungan seksual lebih intim tanpa harus keluar duit. Saat gadun bule menyudahi permainan, semua penonton tepuk tangan dan kembali duduk di tempat masing-masing. Ega dengan terpakasa menuruti permainan yang sudah selesai. Dalam hatinya ia sangat kecewa karena sedikit lagi ia muncrat namun ia malu untuk menuntut meneruskan permainan yang tanggung tinggal sedikit lagi. Dengan terpaksa ia mengenakan kembali kancut serta celana pantainya dengan kondisi kontol masih ngaceng total.

***

Malam sudah terlalu larut. Pesta lgbt di Bali Joe telah usai. Kaum gay kampung yang baru pertama kali masuk ke Bali Joe dapat kenalan gay kampung lain lalu menginap bersama di hotel dilanjutkan ngentot sampai pagi. Satpam dan bodyguard Bali Joe yang berotot gempal dan bertato bermalam di hotel turis gay lokal yang bersedia di entot dan ngemut kontolnya secara gratis. Gogo boys juga menerima tawaran ngentot dengan bule yang mau membayarnya. Begitu pula dengan Tika yang menerima tawaran ngesex dengan pasangan lesbi butche-nya yang bersedia membayarnya untuk ngentot di hotel bersamanya. Icha pulang bersama teman-temannya. Hanya Adit dan Ega yang menolak tawaran diajak ngentot dengan gadun-gadun gay tadi walaupun dengan iming-iming uang sejuta. Adit dan Ega memilih pulang ke kosan untuk beristirahat.


Cerita Selanjutnya Baca: Om Om Macho Dientot Brondong Straight (Kisah Remaja Biseks) #6



Baca "Kisah Remaja Biseks" Dari Awal: Cara Ngentot Sepasang Sahabat SMA (Kisah Remaja Biseks) #1
Foundation Study ITIL