Nelayan Kampung Terjerumus Dalam Dunia Gay (Kisah Gay Indonesia Era 80an) #1

Itil Foundation
Cerita ini adalah kisah nyata dari pengakuan seorang bapak gay berusia 50 tahun.

Tahun 1985 ketika itu pak Somad masih berusia 19 tahun. Ia pergi merantau ke kota Kali Anget Madura untuk menyambung hidupnya. Pada tahun1985, Somad seorang perjaka dari desa terpencil bernama desa Gedang Kecamatan Banyu Putih Kabupaten Sumenep Madura. Desa yang sangat terpencil, untuk menuju ke pasar terdekat saja harus melewati pematang sawah yang luas hingga 2 km. Desa yang sangat gersang hanya terdapat beberapa penduduk yang bekerja sebagai buruh tani di sawah milik orang lain. Desa Gedang yang terkenal sangat miskin dan kolot, tidak ada listrik dan jauh dari standar makmur.

Sejak kecil Somad tidak pernah mengenyam pendidikan. Dari kecil ia sudah diajarkan oleh emak dan neneknya bekerja buruh di sawah membantu perekonomian keluarga. Ayah Somad sudah meninggal saat ia masih usia 15 tahun. Di desa Gedang, menikah muda adalah tradisi yang sangat wajar. Bahkan anak perempuan berusia 12 tahun sudah menikah dengan perjaka usia 15 tahun yang dijodohkan oleh orang tuanya. Walaupun Somad tidak bisa membaca dan menulis namun urusan mengaji ia sangat mahir. Ia bisa mengaji Al Quran dengan fasih, ilmu tajwidnya juga lancar. Semua penduduk desa Gedang tingkat religiusitasnya sangat tinggi. Seorang kyai dan haji merupakan tingkat strata paling tinggi di sana.

Somad menetapkan hatinya untuk merantau ke kota saat usianya 19 tahun. Ia beralasan kepada emaknya untuk mencari nafkah, untuk membantu perekonomian keluarga dan untuk tabungan menikah. Somad sudah dijodohkan dengan gadis 15 tahun tetangganya sendiri. Maka dari itu ia ingin mencari nafkah ke kota untuk bekal menikah daripada membiarkan emaknya harus menjual kambing ternaknya untuk pesta pernikahan sederhana. Somad tak mau merepotkan emaknya. Akhirnya emak Somad mengijinkan Somad merantau ke kota.

Untuk pertama kalinya Somad merantau ke kota. Ia berbekal uang 2000 rupiah hasil menjual 3 ekor ayam jago di pasar. 2000 rupiah sangat banyak saat itu. Ia naik angkutan umum dan bis kota untuk ke Kali Anget kota kecil di Madura pusat perekonomian dan dekat pelabuhan. Sesampai di Kali Anget ia mondar-mandir sambil termenung melihat hiruk pikuk aktivitas pelabuhan yang ramai orang lalu lalang. Ia kesana kemari menghampiri kuli pikul untuk menanyakan informasi apakah ada pekerjaaan untuknya. Seorang kuli pikul yang bekerja di pelabuhan hanya bisa menunjuk seorang mandor dari kejauhan agar Somad bertanya sendiri apakah ada pekerjaan untuk dirinya atau tidak.

Somad bertanya pada mandor tersebut. Sang mandor sudah tidak ada lowongan lagi untuknya. Somad memaksa bahwa ia mau bekerja apapun termasuk menjadi kuli pikul di kapal. Tapi sang mandor tetap tak bisa memberikan pekerjaan baginya. Namun untung saja mandor tersebut berbaik hati ia memberikan alamat di perusahaan tambak udang tak jauh dari pelabuhan, mungkin saja di perusahaan tambak tersebut masih membutuhkan jasa kuli dan Somad bisa bekerja di sana. Somad sangat berterima kasih kepada mandor yang berbaik hati tersebut lalu ia pamit pergi menuju alamat yang diberikan.

Setelah tanya-tanya akhirnya Somad menemukan kantor tambak udang yang dimaksud. Kantor tersebut sangat kecil dan sederhana bangunannya seperti toko kelontong pada umumnya namun sayangnya masih tutup dan pemiliknya tak ada di dalam. Somad rela menunggu berjam-jam duduk di emparan sambil melinting rajangan rokok kelobot.

Dari arah kejauhan Somad melihat perjaka seumurannya yang tampaknya juga menuju ke kantor tambak tersebut. Tampaknya ia juga menanti pemilik perusahaan datang namun ia duduk menjauh dan menghiraukan Somad yang juga acuh sambil menghisap rokok klobot dalam dalam. Sifat Somad yang tertutup menjadikan dirinya seperti individu yang angkuh. Memang Somad tidak terbiasa bertemu dengan orang asing bahkan cenderung menutup diri. Ia menutup diri karena minder tidak bisa baca tulis dan dari keluarga miskin di desa miskin yang terpencil. Saat kecil Somad pernah trauma di ledek warga kampung sebelah yang lebih maju karena dirinya tidak bisa baca tulis. Kenangan itu masih membekas dihatinya hingga kini masih diratapi mengapa Tuhan tidak menakdirkannya bisa baca tulis. Sifat tertutup Somad menjadikan orang di sekitarnya merasa canggung saat ingin mengajaknya ngobrol, termasuk perjaka yang baru datang tersebut.

Dua perjaka umur 19 tahun yang sama sama dari desa yang merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Mereka sama sama menghisap rokok namun tak ada interaksi sama sekali. Mereka duduk sendiri sendiri, Somad duduk di emperan, sedangkan perjaka tersebut duduk di bawah pohon mangga. Terkadang mereka saling melirik dan membuang  pandangan saat kepergok melirik. Mereka termenung menanti kedatangan juragan tambak.

Juragan tambak akhirnya datang membawa sepeda kumbang. Ia kemudian menyapa perjaka tersebut namun menghiraukan Somad. Somad berdiri untuk menghormati sang juragan. Juragan tersebut tanya kepada Somad "Ada kepentingan apa?" Sambil membuka pintu. 

"Saya mau mencari kerja, saya bisa bekerja apa saja." Jawab Somad memelas.

Si juragan mempersilakan kedua perjaka tersebut masuk lalu untuk di data. Sambil menunggu mereka berdua didata, perjaka tersebut memberikan tangannya sambil mengenalkan dirinya.

"Saya Rohim." Kata perjaka tersebut.

Somad menerima jabat tangannya tanpa ekspresi. "Saya Somad." Jawab Somad singkat. Selanjutnya tak ada lagi interaksi yang dapat dibangun karena Rohim dan Somad saling diam menunggu sang juragan mendata mereka.

***

Rohim yang awalnya terbuka kini menjadi sinis kepada Somad karena Somad seperti pria sombong dimatanya. Disisi lain ia sangat iri pada Somad, karena Somad datang diwaktu yang tepat tanpa harus membuat janji pada juragan. Tidak seperti dirinya, Rohim harus membuat janji dulu dan berkorban waktu bermalam di emperan mushola untuk janjian bertemu dengan juragannya keesokan harinya. Apa boleh buat, keberuntungan belum memihak padanya.

Sang juragan telah selesai mendata Rohim dan Somad, kemudian ia menawarkan gaji untuk bekerja di tambak udang miliknya dipantai Lapa Laok dengan gaji 5000 untuk kontrak 3 bulan. Rohim dan Somad juga mendapatkan kiriman makanan, tenda dan keperluan lainnya. Rohim dan Somad setuju. Mereka menandatangani kontrak dan segera berkemas menuju tambak di pantai Lapa Laok.

Untuk menuju tambak udang Lapa Laok dibutuhkan perjalanan darat 4 hingga 5 jam. Mereka berdua menumpang mobil bak terbuka milik juragan di bak belakang dengan dipenuhi barang barang keperluan tambak. Setelah dari pantai Lapa Laok mereka diajarkan oleh juragan. Juragan memberi tahu pada Somad dan Rohim cara kerja di tambak. Mereka diberi pengetahuan singkat oleh juragan. Semuanya mengerti dan juragan pulang. Ia memberi pesan untuk beberapa hari ini sang juragan akan terus memantau hingga Rohim dan Somad becus bekerja setelah itu hasil tambak menjadi tanggung jawab penuh Rohim dan Somad hingga panen sampai selesai kontrak.

Sehari hari Rohim dan Somad bekerja di tambak yang panas. Somad mengurus urusan makan sedangkan Rohim yang menjaga tambak, memisahkan udang kecil dan dewasa dll. Mereka hanya bicara hal yang penting penting saja seperti urusan makan dan tambak selain itu tak ada lagi topik yang bisa dibicarakan.
 
Gambar Illustrasi, Sumber: Twitter @pengagumlelaki


Tiga hari kemudian juragan datang dengan perahu sampan. Mereka boleh menggunakan sampan untuk mencari kayu bakar di pantai pantai yang agak jauh. Ketika melihat kinerja Rohim dan Somad ia sudah mempercayakan penuh pada mereka karena Rohim dan Somad dinilai cepat beradaptasi dan mulai bekerja sama. Kemudian juragan Pulang dan berjanji akan mengirimkan bahan makanan seperti beras, air bersih, bumbu dapur, buah buahan, dan rokok dalam seminggu sekali. Kini tambak benar benar menjadi tanggung jawab Rohim dan Somad.
 
Gambar Illustrasi, Sumber: Twitter @pengagumlelaki


Suasana tambak di pantai Lapa Laok yang sangat sepi, terpencil dan panas. Diperlukan 1 jam jalan kaki untuk ke desa terdekat namun Rohim atau Somad tak ada keinginan jalan jalan pergi ke sana karena tanggung jawabnya terhadap tambak jauh lebih penting. Mereka meninggalkan tambak hanya untuk mencuci pakaian di sungai yang berjarak 2 km dari tambak, itupun mereka harus bergantian karena tambak harus tetap dijaga.

***

Sehari hari kegiatan mereka hanya memberi pakan udang, menyisir udang untuk dipisahkan yang dewasa dan yang kecil, memasak untuk sarapan, mencari kayu bakar, memancing ikan, istirahat, lalu mandi di sungai. Malamnya membuat api unggun, menanak nasi, memasak air untuk wedang kopi, membakar ikan hasil pancingan lalu kembali tidur. Begitu seterusnya hingga bosan. Sudah seminggu Rohim dan Somad hidup bersama tapi jalinan antarkekerabatan masih sangat renggang hal tersebut karena jarangnya mereka berkomunikasi.

Pada suatu hari saat sedang istirahat Rohim mengukir kayu dibentuk seperti miniatur sapi yang gagah.

"Apa yang sedang kau lakukan? Sini aku pinjam pisaunya." Tanya Somad kepada Rohim.

Gambar Illustrasi, Sumber: Twitter @KuliLovers
Rohim memberikan pisaunya lalu membolak balik karya barunya sambil meniupi debu debu kayu yang masih menempel. Ia memamerkan karya terbaiknya yaitu patung sapi gagah kepada Somad yang sibuk merajang bumbu untuk masak.

"Ini karya terbaikku, sapi gagah. Suatu saat aku akan bisa menungganginya di festival karapan sapi di desaku. Apa kamu suka karapan sapi?" Tanya Rohim kemudian.

"Ya tentu saja, ketika aku masih kecil saat aku punya uang jajan lebih pasti aku dan almarhum ayahku pergi nonton festival karapan sapi di kecamatan. Aku selalu dipanggul almarhum bapak sambil bersorak sorai menyemangati para pengendali sapi itu. Dan pulangnya ayahku membelikanku es gosrok dan gulali. Yah memang aku sangat merindukan kebahagiaan itu bersama almarhum tapi sekarang aku sudah dewasa harus mencari kebahagiaan sendiri." Kata Somad sambil mengenang masalalunya yang indah dan siap melangkah dalam persaingan hidup yang kejam.

"Kukira kau anak paling beruntung Mad, ternyata kita sama. Sama sama orang miskin. Saat itu waktu usiaku masih 9 tahun, di desaku ada lomba mengendarai karapan sapi untuk anak anak dalam rangka mencari bakat bakat baru. Aku sangat antusias dengan acara itu tapi sayang aku gagal. Tapi aku terus mencoba hingga saat waktu Agustusan tahun lalu aku juara. Mungkin Agustus depan aku akan kembali mengikuti acara tersebut. Lalu ngomong ngomong apa rencanamu setelah kontrak kerja di tambak ini selesai?" Tanya Rohim.

"Entahlah mungkin aku akan pulang kampung. Aku akan menikah dengan Siti gadis desa yang telah dijodohkan padaku. Akupun juga tidak tahu apakah setelah menikah kelak aku akan bekerja di kampungku menjadi buruh tani atau aku bekerja lagi di tambak ini." Ujar Somad yang masih bingung dengan jalan hidupnya.

Tiba tiba Rohim tertawa meledak sambil menjotosi lengan Somad yang padat yang gelap mengkilat. Somad masih bingung mengapa Rohim bisa sampai tertawa terbahak bahak seperti itu. Rohim tertawa hingga keluar air mata sampai perutnya melilit. Ia berusaha menjelaskan kepada Somad bahwa dia tertawa karena semenjak mereka hidup bersama baru kali ini kalimat terpanjang Somad yang pernah ia dengar. Somad tertawa ringan melihat kelakuan konyol teman barunya. Somad mengaku bahwa yang barusan adalah kalimat terpanjang yang pernah ia ceritakan pada seseorang semenjak setahun belakangan. Rohim tambah terpingkal pingkal lagi.

Matahari mulai merayap sembunyi. Api unggun kembali berkobar. Air liur banjir di dalam mulut mereka karena sangat lapar, namun mereka berdua harus menunggu semuanya matang. Momen makan malam yang ditunggu akhirnya datang juga. Menu makan malam kali ini memang sama seperti menu menu yang sebelumnya, tapi malam ini sangat nikmat karena baru kali ini mereka saling berinteraksi. Padahal pada malam malam sebelumnya semanis apapun kopi yang diseduh tetap terasa hambar karena tidak ada topik pembicaraan. Tampaknya Somad mulai berasaptasi dengan lingkungan barunya.

***

Setiap malam Somad selalu tidur di luar di dekat api unggun. Ia selalu menolak dengan halus ajakan Rohim untuk tidur di tenda. Rohim merasa tidak enak hati karena ulah Somad tidak menggunakan fasilitas dari juragan secara bersama. Padahal Rohim selalu mengingatkan Somad untuk tidur di dalam saja, ia tak masalah berbagi tempat tidur di tenda. Namun Rohim hanya berterima kasih, ia memilih tidur di dekat api unggun karena lebih nyaman begitu katanya. Hingga Rohim capek menawarinya lagi agar ia tidur di tenda.

Tapi pada malam itu gerimis datang. Sekali lagi Rohim menawari Somad agar tidur di dalam tenda. Rohim tak keberatan berbagi tempat tidur di dalam tenda terpal yang sempit. Namun Somad lebih memilih berteduh di bawah pohon. Rohim meneriaki Somad agar jangan memaksakan diri. Hingga akhirnya hujan lebat mengguyur pantai Tapa Laok.

Somad permisi masuk ke tenda dengan sopan seperti bertamu di rumah pak Kyai. Rohim tak habis pikir dengan ulah Somad, yang masih membawa kebiasaan kolotnya di desa. Somad masih menganggap tenda tersebut bukan miliknya maka dari itu ia harus permisi untuk menumpang tidur. Bagi Rohim rasa sungkan Somad terlalu berlebihan. Kemudian mereka mengatur posisi seperti ikan sarden kaleng. Apa boleh buat mereka harus berdempet-dempetan untuk berbagi tempat.

Malam telah larut. Air hujan seakan ditumpahkan dari langit. Hawa menjadi dingin. Somad sudah tidur terlelap dan tak sadar ia merangkul Rohim dari belakang. Somad mendengkur lirih di belakang telinga Rohim sedangkan hembusan nafasnya menerpa leher bagian belakang Rohim. Sebenarnya Rohim agak geli dengan hembusan nafas Somad, namun ia membiarkan saja. Lama kelamaan leher Rohim menjadi sensitif, setiap nafas Somad yang dihembuskan mengenai leher Rohim membuat bulu halus rohim menjalar dari kepala, leher, punggung, hingga pantatnya. Bulu kuduk yang berdiri serta darah yang berdesir membuat kontol Rohim menjadi tegang. Rohim mulai gelisah dan tidak enak tidur.

Kontol rohim telah menegang total di balik sarung usang yang ia kenakan. Entah setan apa yang lewat tiba-tiba tangan rohim meraih ke belakang menyentuh kontol Somad yang masih tidur. Jantung Rohim berdegub kencang, ia seakan tak bisa mengendalikan kemauan tangannya yang terus memainkan kontol Somad. Tangan Rohim meraba, meremas dan memberikan sentuhan lembut pada kontol Somad yang mulai mengencang di balik kolor yang dikenakannya. Kontol Somad mulai mengencang dan tegang karena rangsangan yang diberikan Rohim. Akhirnya Rohim bisa memplorotkan kolor Somad hingga kontolnya keluar mengacung ketat di belakang pantat Rohim. Rohim meludahi tangannya lalu melumurkan pada kontol Somad dan memainkan maju mundur. Kontol Somad licin dan mulai memanas. Somad tetap mendengkur lirih namun ia semakin mengencangkan pelukannya di badan Rohim. Somad mulai memaju mundurkan pinggulnya tanpa sadar. Tampaknya kocokan Rohim membuat Somad mimpi basah. Sembari mengocok kontol Somad, Rohim juga mengocok kontolnya sendiri.

Malam itu hujan tak kunjung berhenti namun suasana di tenda semakin panas. Tiba tiba Somad kaget dan bangkit dari tidurnya langsung menangkis tangan Rohim.

"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Somad yang masih syok berat.

"Ayo lah santai saja Mad..." jawab Rohim menenangkannya. Lalu ia menggapai lengan Somad untuk diajak tidur lagi.

Somad mengelak, "Jangan macam macam ya!" Ancam Somad sambil mencekik leher Rohim.

Rohim menangkis tangan Somad hingga terlepas lalu ia mendorong tubuh Somad ke belakang hingga Somad terlentang. Setelah itu Rohim langsung melahap kontol Somad yang masih mengacung. Ia betul-betul menikmati kontol Somad yang kencang dan panas. Diemut lalu dikocok, diemut lalu dikocok. Somad tak kuasa mengelak dari rangsangan nikmat yang diberikan Rohim. Ia merem untuk menikmati servisan Rohim.

Namun tak lama kemudian ia kembali sadar dan kaget lagi lalu mengelak lagi. Somad bangkit kembali lalu ia duduk sambil merangkul lututnya, ia seperti ketakutan dan syok berat. Rohim berusaha meyakinkan Somad, ia berjanji tak akan membicarakan ini pada siapapun. Rohim mengajak meneruskan permainan, ia menyuruh Somad untuk memasukkan kontolnya ke dalam pantatnya. Somad akhirnya mencair. Somad langsung memplorotkan celananya dan menyibakkan sarung Rohim hingga bokong Rohim terbuka. Somad meludahi tangannya lalu ludahnya dilumurkan pada kontolnya kemudian membimbing kontolnya masuk ke dalam pantat Rohim yang perawan.

Beberapa kali kontol Somad meleset masuk, ia kemudian membuka kaki Rohim lebar lebar lalu memasukkan kontolnya kembali dengan beringas. Blesss.... kontol Somad terjepit rapat anus Rohim yang singset. Rohim mengeluh menggelinjang kesakitan. Sedangkan Somad tak mau tahu kesakitan yang dialami rekannya. Ia terus menggenjot pantat Rohim mundur maju dengan ritme yang cepat. Tubuh Somad mulai mengkilat keringat, jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir, lalu ia mengejang dan memasukkan keseluruhan kontolnya ke dalam pantat Rohim yang mencengkeram rapat. Somad menumpahkan mani nya ke dalam pantat rekannya. Croooott... Croooott... Croooott... Croooott... Croooott... Croooott... Croooott... Croooott... Croooott... Somad mengantur nafasnya sejanak lalu ia mengenakan kolornya kembali lalu tidur membelakang Rohim.
 
Gambar Illustrasi, Sumber: Twitter @pengagumlelaki


Somad mencampakkan Rohim. Sementara Rohim sudah tak berdaya, pantatnya di jebol begitu saja. Ia menyesal mengapa harus menuruti instingnya, coba saja jika ia tak menuruti instingnya mungkin pantatnya tak perih seperti ini. Rohim merasa diperkosa, namun ia juga tak bisa menyalahkan Somad, karena Rohim sendiri yang meminta dan menuruti insting seksualnya. Pantatnya yang perih merekah karena dijebol kontol Somad akhirnya ia malah tidak bisa menikmati sama sekali. Kontolnya juga tidak bisa ngaceng karena terkalahkan rasa sakit yang diderita. Akhirnya Rohim kembali mengenakan sarung usangnya lalu tidur menyamping membelakangi tubuh Somad. Ia mengusap air matanya yang jatuh di pipi karena kesakitan yang luar biasa yang baru saja dialami untuk pertama kalinya. Ia berusaha tidur nyenyak dan berharap pantatnya yang masih panas bisa sembuh esok pagi...

***

Pagi itu di pantai Lapa Laok sangat cerah dan segar. Langit biru awan semburat putih bersih. Burung burung manyar terbang kesana kemari mencari pakan. Embun embun mengendap di dedaunan. Rohim terbangun dari tidurnya lalu ia keluar dari tenda. Somad sudah bangun duluan, ia memasak air untuk wedang kopi. Ia menoleh ke arah Rohim. Rohim mendekat duduk di samping Somad, ia mendekatkan telapak tangannya diperapian untuk menghangatkannya. Seperti biasa Rohim mengucapkan selamat pagi kepada Somad. Namun somad hanya terdiam.

Kemudian Somad menatap mata Rohim untuk mengajaknya bicara serius.
"Aku mohon jangan bicarakan pada siapapun apa yang terjadi pada kita tadi malam. Cerita itu cukuplah berakhir di sini saja." Pinta Somad serius.

"Mengapa harus aku ceritakan pada orang lain? Ini urusan kita. Ini rahasia kita. Orang lain tidak berhak mencampuri urusan kita." Jawab Rohim yang siap menjaga rahasia bersama.

"Kau tahu, dulu waktu aku masih kecil, aku pernah di ajak bapak menyusuri desa. Di desaku ada tegalan luas dan terdapat jalur sungai mati. Almarhum bapak mewanti wanti aku untuk tidak berbuat dosa besar dengan menjadi penyuka sesama jenis. Kalau sampai itu terjadi, bukan hanya dihukum oleh Tuhan, namun juga dihakimi oleh masyarakat. Almarhum bapak memberitahuku sesosok sepasang mayat laki laki yang dibuang begitu saja jasadnya di jurang tersebut. Kepalanya hancur dan jasadnya membusuk akibat dihajar oleh masyarakat karena perilakunya yang menyimpang. Aku benar benar takut dan memeluk bapak rapat rapat. Sejak saat itu aku tidak ada sama sekali terpikirkan untuk berbuat sama seperti mayat yang dibuang masyarakat itu. Dan kali ini aku begitu bodoh. Aku bercinta dengan sosok laki laki tadi malam. Kau tahu Him. Aku masih normal. Setelah kontrak kerja ini selesai, aku akan menikah dengan calonku. Jadi jangan kau usik lagi ketenanganku!" Kata Somad dengan hati kalut.

"Aku minta maaf kalau tadi malam mengganggu ketenangamu. Entah setan apa yang lewat hingga kita melakukan hal seperti itu tadi malam. Tapi kau juga harus tahu, aku juga pria normal sama seperti dirimu." Jawab Rohim.

"Baiklah rahasia ini cukup kita pendam di Lapa Laok saja. Baiknya kau juga sesegera mungkin melupakannya." Kata Somad.


Mereka kembali melakukan aktivitas seperti biasa kembali. Setelah sarapan, Rohim mengurus tambak dan memancing ikan, sedangkan Somad mencari kayu bakar dan membantu pekerjaan Rohim. Mereka beraktivitas seperti hari pertama mereka bekerja. Mereka saling tak berinteraksi, seperti belum kenal satu sama lain. Mereka berinteraksi seperlunya saja.

Foundation Study ITIL